Bayangkan sebuah kota kecil di Spanyol, dipenuhi para penerjemah dari tiga agama berbeda, duduk berdampingan menyalin dan menerjemahkan ribuan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Bukan kisah fiksi, ini benar-benar terjadi di Toledo, sekitar abad ke-12 Masehi. Kota ini menjadi salah satu jembatan paling penting dalam sejarah, tempat ilmu pengetahuan yang selama berabad-abad dikembangkan oleh para ulama dan ilmuwan muslim akhirnya mengalir deras ke benua Eropa. Kisah Toledo ini jarang diceritakan secara mendalam, padahal perannya begitu besar dalam membentuk wajah keilmuan dunia hingga hari ini.

Toledo: Kota yang Pernah Dikuasai Umat Islam

Toledo pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Islam di Andalusia selama lebih dari empat abad, sebelum akhirnya jatuh ke tangan Kerajaan Kristen Castilla pada tahun 1085 M. Namun yang menarik, ketika kekuasaan politik berpindah, warisan ilmu pengetahuan yang telah tertanam justru tidak ikut hilang. Perpustakaan-perpustakaan besar peninggalan masa kejayaan Islam, berisi kitab-kitab kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, hingga tafsir, tetap tersimpan rapi di kota ini.

Para penguasa baru yang datang, alih-alih membakar atau membuang warisan tersebut, justru menyadari betapa berharganya isi perpustakaan itu. Dari sinilah lahir sebuah gerakan besar yang kemudian dikenal sejarawan sebagai Toledo School of Translators atau Sekolah Penerjemah Toledo.

Ribuan Naskah, Ratusan Penerjemah

Selama kurang lebih dua abad, ratusan naskah karya ulama dan ilmuwan muslim diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin, bahasa ilmiah utama Eropa saat itu. Karya-karya ini meliputi berbagai bidang:

  • Kedokteran, seperti kitab-kitab rujukan yang berisi metode diagnosis penyakit dan racikan obat.
  • Matematika dan aljabar, ilmu hitung yang namanya sendiri berasal dari kata Arab.
  • Astronomi, termasuk perhitungan pergerakan bintang dan penentuan arah.
  • Filsafat, terutama pemikiran para cendekiawan muslim yang mengulas dan mengembangkan pemikiran filsafat klasik dengan sudut pandang keilmuan Islam.

Para penerjemah di Toledo berasal dari latar belakang berbeda, ada muslim, yahudi, dan kristen, bekerja sama menerjemahkan naskah demi naskah. Proses ini biasanya berlapis: naskah Arab diterjemahkan lebih dulu ke bahasa Spanyol kuno oleh penerjemah yang menguasai kedua bahasa, kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Latin oleh cendekiawan lain. Kerja sama lintas latar belakang ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, ketika dijaga dengan niat baik, bisa menjadi jembatan yang mempertemukan manusia, bukan memecah belah.

Hikmah di Balik Kisah Toledo

Ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari peristiwa ini. Islam sangat menekankan pentingnya ilmu, bahkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah membaca.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)

Ayat ini menjadi fondasi mengapa umat Islam pada masa keemasannya begitu bersemangat menuntut ilmu, menulis, dan mendokumentasikan pengetahuan dalam bentuk kitab. Warisan itulah yang kemudian, meski melalui jalan panjang dan berliku, sampai ke Eropa lewat Toledo dan mengubah arah sejarah keilmuan dunia.

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Semangat inilah yang mendorong lahirnya perpustakaan-perpustakaan besar di Andalusia, yang isinya kelak menjadi harta karun ilmu bagi peradaban lain.

Ilmu Tidak Mengenal Sekat Wilayah

Kisah Toledo mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat sejatinya tidak terbatas oleh sekat kebangsaan, wilayah, bahkan agama. Ilmu kedokteran atau matematika yang ditulis oleh ilmuwan muslim, ketika diterjemahkan dan dipelajari oleh cendekiawan Eropa, tetap membawa manfaat bagi umat manusia secara luas. Ini sejalan dengan semangat Islam yang mendorong umatnya menjadi rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam, termasuk lewat kontribusi keilmuan.

Relevansi bagi Muslim Indonesia Hari Ini

Bagi kita di Indonesia, kisah Toledo bisa menjadi renungan sederhana namun dalam. Berapa banyak dari kita yang benar-benar menulis, mendokumentasikan, atau mewariskan ilmu yang kita miliki? Mungkin kita tidak perlu menjadi ilmuwan besar, tetapi kebiasaan-kebiasaan kecil seperti berikut ini bisa menjadi bentuk nyata meneladani semangat keilmuan Islam:

  • Mencatat ilmu agama yang didapat dari kajian, lalu membagikannya kepada keluarga atau teman.
  • Mendorong anak-anak di rumah untuk gemar membaca dan menulis, bukan sekadar menghafal.
  • Menghargai buku dan naskah sebagai warisan ilmu, bukan sekadar benda mati yang dikoleksi tanpa dibaca.
  • Menjadikan majelis ilmu di masjid atau musala sebagai sarana menyambung mata rantai keilmuan, sebagaimana para ulama terdahulu menjaga ilmu lewat pengajaran turun-temurun.

Kota Toledo mungkin sudah berabad-abad berlalu, namun jejaknya mengingatkan kita bahwa ilmu yang dijaga dengan ikhlas akan terus mengalir manfaatnya, melintasi zaman dan batas negeri.

Penutup

Kisah para penerjemah di Toledo adalah salah satu bukti nyata bagaimana peradaban Islam pernah menjadi pusat cahaya ilmu yang menerangi Eropa. Semoga kisah ini menumbuhkan rasa syukur kita atas warisan keilmuan umat Islam, sekaligus menggerakkan semangat untuk terus belajar dan berbagi ilmu, sekecil apa pun itu. Mari kita berdoa, semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, serta menjadikan ilmu tersebut sebagai jalan kebaikan bagi diri, keluarga, dan sesama.