Tiang-Tiang Bersejarah di Masjid Nabawi dan Kisahnya
Bayangkan sebuah batang kurma yang menangis. Bukan cerita dongeng, melainkan riwayat shahih yang tercatat rapi dalam kitab-kitab hadits tentang Masjid Nabawi di Madinah. Banyak orang mengenal Masjid Nabawi hanya dari kubah hijaunya yang ikonik atau dari pengalaman ibadah di sana. Namun jarang yang menelusuri kisah tiang-tiangnya — saksi bisu yang menyimpan pelajaran mendalam tentang cinta, kerinduan, dan keteguhan iman umat terdahulu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Artikel ini mengajak kita menyusuri jejak beberapa tiang bersejarah di Masjid Nabawi, bukan sekadar sebagai catatan arkeologis, tetapi sebagai renungan yang bisa menghidupkan kembali kecintaan kita kepada Nabi ﷺ dan semangat menjaga adab dalam beribadah.
Ustuwanah Hannanah: Batang Kurma yang Merindu
Salah satu kisah paling menyentuh dalam sejarah Masjid Nabawi adalah tentang Ustuwanah Hannanah, yang berarti "tiang yang merintih". Sebelum mimbar dibuat, Rasulullah ﷺ biasa berkhutbah dengan bersandar pada sebatang pohon kurma yang tertanam di masjid. Ketika para sahabat kemudian membuatkan mimbar untuk beliau agar lebih mudah dilihat jamaah, Nabi ﷺ berpindah dari batang kurma tersebut ke mimbar baru.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Rasulullah ﷺ meninggalkan batang kurma itu dan naik ke mimbar, batang kurma tersebut mengeluarkan suara rintihan seperti unta yang kehilangan anaknya, sampai seluruh masjid mendengarnya. Nabi ﷺ pun turun dari mimbar dan memeluk batang kurma itu hingga ia tenang.
Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan mukjizat Nabi ﷺ sekaligus bukti bahwa seluruh makhluk, termasuk benda mati, memiliki bentuk kerinduan dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Jika sebatang kayu saja bisa merasakan kehilangan sedemikian rupa, sudah sepantasnya kita sebagai umatnya menumbuhkan rasa cinta yang jauh lebih dalam kepada beliau, meski hanya mengenalnya lewat sirah dan hadits.
Rawdhah: Taman Surga di Antara Rumah dan Mimbar
Area antara rumah Rasulullah ﷺ (kini menjadi lokasi makam beliau) dan mimbar masjid dikenal dengan nama Rawdhah, yang berarti "taman". Penamaan ini bukan tanpa dasar, karena Rasulullah ﷺ sendiri bersabda tentang keistimewaan tempat ini.
مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
"Ma baina baiti wa minbari raudhatun min riyadhil jannah."
Artinya: "Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga." (HR. Bukhari dan Muslim)
Di kawasan inilah terdapat beberapa tiang bersejarah lain yang menjadi saksi berbagai peristiwa penting, seperti Ustuwanah Aisyah yang disebut-sebut sebagai tempat paling utama untuk shalat di Rawdhah, serta Ustuwanah Wufud yang menjadi tempat Nabi ﷺ menerima delegasi (utusan) dari berbagai kabilah Arab yang datang untuk menyatakan keislaman mereka.
Ustuwanah Sarir: Tempat Peristirahatan Rasulullah ﷺ
Ada pula tiang yang dikenal dengan nama Ustuwanah Sarir, yang menandai lokasi tempat Rasulullah ﷺ biasa beristirahat atau duduk beralaskan tikar sederhana. Kisah ini mengingatkan kita pada kesederhanaan hidup Nabi ﷺ meski beliau adalah pemimpin umat dan kekasih Allah. Tidak ada kemewahan berlebihan dalam kehidupan sehari-hari beliau, bahkan tempat istirahatnya pun sangat sederhana dibandingkan dengan kedudukannya yang begitu mulia.
Bagi umat Islam Indonesia yang mungkin belum berkesempatan menunaikan ibadah haji atau umrah, kisah-kisah ini bisa menjadi bahan renungan yang mendekatkan hati kepada sunnah kesederhanaan. Misalnya, ketika kita merapikan kamar tidur yang sederhana, atau memilih untuk hidup secukupnya tanpa berlebihan, sejatinya kita sedang meneladani jejak yang pernah ditapaki di sekitar tiang-tiang Masjid Nabawi itu.
Hikmah yang Bisa Dipetik Muslim Masa Kini
Kisah-kisah tiang bersejarah ini bukan sekadar cerita nostalgia tentang bangunan lama. Ada beberapa pelajaran yang bisa kita bawa pulang ke kehidupan sehari-hari:
- Menumbuhkan rindu kepada Rasulullah ﷺ. Kisah Hannanah mengajarkan bahwa kerinduan kepada Nabi ﷺ adalah fitrah yang mendalam. Kita bisa menghidupkan rasa ini dengan memperbanyak shalawat dan mempelajari sirah nabawiyah.
- Menjaga adab di tempat mulia. Ketika kelak berkesempatan mengunjungi Masjid Nabawi, mengetahui sejarah setiap sudutnya akan membuat kita lebih khusyuk dan menjaga adab, bukan sekadar berfoto atau terburu-buru.
- Meneladani kesederhanaan. Ustuwanah Sarir mengingatkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari ketakwaan dan akhlak.
- Menghargai sejarah sebagai sarana keimanan. Belajar sirah dan sejarah tempat-tempat suci bisa memperkuat keyakinan, bukan sekadar pengetahuan kognitif semata.
Menghadirkan Semangat Nabawi dalam Keseharian
Tidak semua muslim Indonesia memiliki kesempatan untuk berdiri langsung di dekat Ustuwanah Hannanah atau bersujud di Rawdhah. Namun semangat yang terkandung dalam kisah-kisah ini bisa kita hadirkan di rumah masing-masing. Misalnya, dengan membiasakan anak-anak mendengarkan kisah sirah sebelum tidur, atau menjadikan majelis keluarga sebagai ajang membahas hikmah dari sejarah Islam.
Kita juga bisa meniru semangat para sahabat yang begitu mencintai setiap jejak Rasulullah ﷺ, dengan cara memperbanyak shalawat setiap hari, menjaga shalat lima waktu tepat waktu sebagaimana beliau mencontohkannya, serta menjadikan kesederhanaan sebagai bagian dari gaya hidup, bukan keterpaksaan.
Penutup: Rindu yang Menggerakkan Iman
Kisah tiang-tiang bersejarah di Masjid Nabawi mengajarkan kita bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia bisa terwujud dalam bentuk kerinduan, adab, dan keteladanan yang nyata dalam keseharian. Sebagaimana batang kurma yang merintih karena kehilangan kedekatan dengan Nabi ﷺ, semoga hati kita pun senantiasa merindukan sunnahnya dan berusaha menghidupkannya dalam setiap langkah.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kesempatan kepada kita semua untuk suatu saat berziarah ke Masjid Nabawi, menapaki jejak-jejak sejarahnya dengan hati yang penuh cinta dan adab. Dan bagi yang belum berkesempatan, mari terus menghidupkan kerinduan itu lewat shalawat, doa, dan amal shalih sehari-hari. Aamiin.
Menemukan kekeliruan pada artikel ini? Silakan sampaikan melalui halaman kontak — kami akan meninjau untuk direvisi atau dihapus.