Pernahkah kita menghitung berapa kali jantung berdetak hari ini tanpa kita perintah? Berapa kali paru-paru menghirup udara tanpa kita minta izin dulu kepada diri sendiri? Kita sering sibuk bersyukur atas hal-hal besar yang kita usahakan—pekerjaan baru, rumah yang dibeli, anak yang lulus sekolah. Tapi ada kategori nikmat lain yang jauh lebih sering terlewat dari perhatian: nikmat yang datang tanpa pernah kita minta, tanpa pernah kita rencanakan, bahkan tanpa pernah kita sadari sedang kita nikmati.

Allah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 18, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya." Ayat ini bukan sekadar pujian retoris, melainkan pengingat bahwa sebagian besar nikmat kita justru berada di luar kesadaran kita—ia mengalir begitu saja, sunyi, dan konsisten, sampai kita lupa bahwa itu pun anugerah yang harus disyukuri.

Nikmat yang Tak Pernah Kita Minta

Coba renungkan beberapa hal ini sejenak sebelum tidur malam ini:

  • Kita tidak pernah meminta agar udara tetap gratis dan tersedia setiap detik.
  • Kita tidak pernah berdoa secara khusus agar jantung terus berdetak teratur sepanjang hari.
  • Kita tidak memohon agar mata masih bisa membedakan warna, atau telinga masih mengenali suara azan dari kejauhan.
  • Kita tidak meminta agar tubuh tahu caranya menyembuhkan luka kecil tanpa kita ajari.

Semua itu berjalan tanpa permintaan, tanpa transaksi, tanpa proposal doa yang panjang. Inilah yang disebut sebagian ulama sebagai nikmat dzatiyyah—nikmat yang menyatu dengan keberadaan kita, sehingga justru paling mudah terlupakan karena tidak pernah "hilang" untuk sementara sehingga kita baru menyadarinya.

Mengapa Nikmat Diam-Diam Ini Mudah Terlewat?

Manusia cenderung bersyukur atas sesuatu yang datang setelah usaha atau doa yang panjang. Ada rasa "pantas disyukuri" karena ada proses perjuangan di baliknya. Namun nikmat yang mengalir tanpa jeda—seperti napas, kesehatan akal, atau bahkan kemampuan untuk sekadar tersenyum—sering dianggap sebagai "default" kehidupan, bukan pemberian yang layak direnungi.

Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, "Dua nikmat yang banyak manusia lalai darinya: kesehatan dan waktu luang." Kesehatan di sini bukan hanya tentang sembuh dari sakit, tapi tentang berfungsinya seluruh sistem tubuh kita hari demi hari tanpa kita pernah benar-benar memahami betapa rumit dan ajaibnya mekanisme itu.

Contoh dalam Keseharian Muslim Indonesia

Bayangkan seorang ibu rumah tangga yang bangun subuh, memasak untuk keluarga, lalu mengantar anak sekolah. Ia mungkin bersyukur karena anaknya sehat, suaminya bekerja dengan baik. Tapi jarang ia berhenti sejenak untuk bersyukur bahwa kakinya masih kuat berjalan ke dapur, bahwa lidahnya masih bisa merasakan manis dan asin saat mencicipi masakan, atau bahwa akalnya masih jernih untuk mengatur jadwal keluarga yang padat.

Begitu juga seorang pekerja yang naik motor menerobos macet Jakarta. Ia mungkin mengeluh soal waktu tempuh, tapi lupa bersyukur bahwa matanya masih awas membaca jalan, tangannya masih terampil mengendalikan kendaraan, dan hatinya masih diberi kesabaran untuk tidak marah-marah di jalan.

Doa Malam sebagai Ruang untuk Menyadari Nikmat Diam-Diam

Di sinilah doa malam memiliki peran yang berbeda dari sekadar permohonan. Doa malam bisa menjadi ruang jujur untuk "menagih" diri sendiri: sudah berapa nikmat diam-diam yang kulewatkan hari ini tanpa syukur?

Ada baiknya sebelum tidur, kita meluangkan beberapa menit untuk melakukan hal sederhana berikut:

  1. Diam sejenak dan rasakan napas. Tarik napas perlahan, sadari bahwa itu terjadi tanpa kita minta, lalu ucapkan alhamdulillah dengan penuh kesadaran, bukan sekadar refleks lisan.
  2. Sebut tiga hal "kecil" yang biasanya tak masuk daftar syukur—misalnya kemampuan mendengar suara anak tertawa, kemampuan mencerna makanan tanpa gangguan, atau sekadar bisa bangun dari tempat tidur tanpa bantuan orang lain.
  3. Tutup dengan doa singkat, seperti yang diajarkan dalam banyak riwayat, memohon agar Allah menjadikan hati kita termasuk hati yang pandai bersyukur, bukan hanya pandai meminta.

Nabi ﷺ sendiri mengajarkan doa yang menunjukkan kesadaran atas nikmat yang tak diminta ini. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau membaca sebelum tidur: "Alhamdulillahilladzi kafaani wa aawaanii wa ath'amanii wa saqaanii..." — "Segala puji bagi Allah yang telah mencukupiku, memberiku tempat tinggal, memberiku makan, dan memberiku minum." Perhatikan bahwa doa ini menyebut hal-hal yang sering kita anggap "biasa saja": tempat tinggal, makan, minum—bukan hal-hal spektakuler.

Syukur yang Mengubah Cara Memandang Hidup

Ketika seseorang mulai terbiasa menyadari nikmat diam-diam, cara ia memandang hidup pun berubah. Kemacetan tidak lagi murni menyebalkan, karena ia sadar masih diberi kesabaran untuk melewatinya. Pekerjaan yang melelahkan tidak lagi hanya beban, karena ia sadar masih diberi tenaga untuk menuntaskannya. Bahkan kesedihan sekecil kehilangan barang pun bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak hal lain yang tetap Allah jaga untuknya.

Inilah makna syukur yang lebih dalam daripada sekadar mengucap "alhamdulillah" ketika mendapat kabar baik. Syukur sejati adalah kesadaran yang hidup, yang terus bekerja di balik hal-hal paling sunyi dalam keseharian kita.

Menutup Hari dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Rutinitas

Malam ini, sebelum kita menutup mata, mari coba sesuatu yang berbeda. Bukan hanya menyebut nikmat besar yang kita syukuri, tapi juga menoleh ke belakang dan menemukan nikmat-nikmat diam-diam yang telah menopang hidup kita sepanjang hari tanpa pernah kita minta.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk selalu peka terhadap nikmat-Nya, sekecil apa pun bentuknya, dan menjadikan doa malam kita bukan sekadar rutinitas, melainkan momen jujur bersama Sang Pemberi segala nikmat. Aamiin.