Sholat Sunat Muakkad vs Ghairu Muakkad: Kenali Bedanya
Pernahkah kita mendengar istilah "sholat sunat muakkad" dan "sholat sunat ghairu muakkad" lalu bertanya-tanya, apa bedanya? Bagi sebagian muslim, semua sholat sunat mungkin dianggap "sama-sama sunah, sama-sama boleh ditinggalkan". Padahal, para ulama membagi sholat sunat berdasarkan tingkat penekanannya. Pemahaman ini penting agar kita bisa menyusun prioritas ibadah harian dengan lebih bijak, terutama di tengah kesibukan hidup yang menuntut kita memilah mana yang lebih layak diutamakan.
Artikel ini akan mengajak kita menyelami klasifikasi sholat sunat dari sisi kekuatan anjurannya, lengkap dengan contoh dan dalil, agar semangat ibadah kita semakin terarah dan tidak sekadar ikut-ikutan.
Mengapa Sholat Sunat Perlu Diklasifikasikan?
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan skala prioritas. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah meninggalkan sholat sunat tertentu meski dalam kondisi safar (bepergian) sekalipun, sementara sholat sunat lain beliau kerjakan sesekali saja. Dari sinilah para ulama fiqih menyusun istilah muakkad (yang sangat ditekankan) dan ghairu muakkad (yang tidak terlalu ditekankan, namun tetap dianjurkan).
Klasifikasi ini bukan untuk membuat kita meremehkan sholat sunat tertentu, melainkan membantu kita memahami mana yang sebaiknya diprioritaskan ketika waktu dan tenaga terbatas—sebuah kondisi yang sangat relevan dengan keseharian muslim modern, termasuk di Indonesia.
Sholat Sunat Muakkad: Yang Sangat Dianjurkan
Sholat sunat muakkad adalah sholat sunah yang sangat ditekankan pelaksanaannya oleh Rasulullah ﷺ, bahkan hampir tidak pernah beliau tinggalkan. Beberapa contohnya:
1. Sholat Rawatib Tertentu
Meski pembahasan rawatib secara umum sudah pernah diulas, penting dicatat bahwa tidak semua rawatib berstatus sama. Dua rakaat sebelum Subuh dan sebelum-sesudah Zuhur, misalnya, termasuk yang paling ditekankan. Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan:
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ
"Lam yakunin-Nabiyyu ṣallallāhu 'alaihi wa sallam 'alā syai'in minan-nawāfili asyadda ta'āhudan minhu 'alā rak'atayil-fajri."
Artinya: "Rasulullah ﷺ tidak pernah bersungguh-sungguh menjaga sholat sunah melebihi kesungguhannya menjaga dua rakaat sebelum Subuh." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Sholat Witir
Sholat witir adalah penutup sholat malam yang jumlah rakaatnya ganjil, minimal satu rakaat dan bisa lebih. Banyak ulama menempatkan witir pada posisi yang sangat kuat anjurannya, bahkan sebagian menyebutnya wajib bagi diri sendiri sebagai bentuk kehati-hatian, meski mayoritas ulama tetap menghukuminya sunah muakkad. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ
"Innallāha witrun yuḥibbul-witra fa autirū yā ahlal-Qur'ān."
Artinya: "Sesungguhnya Allah itu ganjil (Esa) dan menyukai yang ganjil, maka kerjakanlah sholat witir wahai ahli Al-Qur'an." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
3. Sholat Dhuha
Sholat dua rakaat di waktu pagi menjelang siang ini juga termasuk yang sangat dianjurkan, sebagai bentuk syukur atas persendian tubuh kita. Praktiknya sangat membumi bagi muslim Indonesia: dikerjakan sebelum berangkat kerja, di sela jam kantor, atau setelah antar anak sekolah.
Sholat Sunat Ghairu Muakkad: Tetap Bernilai, Lebih Fleksibel
Sementara itu, sholat sunat ghairu muakkad adalah sholat yang dianjurkan namun tidak seketat muakkad dalam pelaksanaannya. Rasulullah ﷺ mengerjakannya, tetapi tidak secara rutin setiap hari. Contohnya:
- Rawatib tambahan, seperti empat rakaat sebelum Ashar atau dua rakaat sebelum Maghrib.
- Sholat sunat mutlak, yaitu sholat sunah yang bisa dikerjakan kapan saja di luar waktu-waktu terlarang, tanpa sebab khusus.
- Sholat Tahiyatul Masjid yang dikerjakan sebagian ulama sebagai anjuran kuat, namun sebagian lain menempatkannya di kategori ini karena sifatnya situasional (hanya saat memasuki masjid).
Perbedaan status ini tidak berarti ghairu muakkad boleh disepelekan. Semua amalan sunah tetap bernilai pahala dan menjadi cara indah untuk mendekatkan diri kepada Allah, hanya saja bobot anjurannya berbeda dari sisi kesungguhan Nabi ﷺ dalam menjaganya.
Menerapkan Prioritas dalam Keseharian
Bagi seorang karyawan muslim yang waktunya terbatas, memahami klasifikasi ini sangat membantu. Misalnya, ketika pagi hari terburu-buru, ia bisa memprioritaskan dua rakaat sebelum Subuh dan tetap menyempatkan sholat Dhuha meski singkat, dibanding memaksakan sholat sunat mutlak yang sifatnya lebih longgar.
Begitu pula seorang ibu rumah tangga yang disibukkan mengurus anak, ia bisa menjadikan witir sebagai penutup wajib hariannya sebelum tidur, sementara rawatib tambahan dikerjakan bila sempat. Islam memberi keluasan, namun tetap memberi arah mana yang lebih utama untuk dijaga.
Hikmah di Balik Klasifikasi Ini
Pembagian muakkad dan ghairu muakkad mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang realistis. Allah dan Rasul-Nya memahami keterbatasan manusia, sehingga memberi tingkatan anjuran yang jelas—bukan untuk membebani, tetapi untuk membimbing kita agar konsisten pada yang paling utama, tanpa mengabaikan yang lainnya sama sekali.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
"Wa ta'āwanū 'alal-birri wat-taqwā."
Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kebaikan, besar atau kecil, muakkad atau ghairu muakkad, tetap bagian dari ketakwaan yang harus terus kita rawat bersama.
Penutup: Menata Ibadah dengan Bijak
Mengenal perbedaan sholat sunat muakkad dan ghairu muakkad bukan untuk memilah mana yang "penting" dan "tidak penting", melainkan untuk membantu kita menata prioritas ibadah di tengah kesibukan dunia. Semoga Allah mudahkan langkah kita untuk senantiasa istiqamah menjaga sholat sunat, baik yang sangat ditekankan maupun yang lebih fleksibel, sebagai bekal cinta kepada-Nya. Mari kita mulai dari yang paling mudah dijaga hari ini—dua rakaat sebelum Subuh atau witir sebelum tidur—sembari berdoa semoga istiqamah senantiasa menyertai kita.
Menemukan kekeliruan pada artikel ini? Silakan sampaikan melalui halaman kontak — kami akan meninjau untuk direvisi atau dihapus.