Ada masa-masa dalam hidup ketika hati terasa penuh sesak—bingung memilih jodoh, ragu menerima tawaran pekerjaan, merindukan sesuatu yang belum kunjung tercapai, atau justru menyesali dosa yang berulang kali dilakukan. Di saat-saat seperti itu, banyak orang mencari jawaban lewat curhat kepada teman, membaca ramalan, atau bahkan mendatangi hal-hal yang justru menjauhkan dari Allah. Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan solusi yang jauh lebih menenangkan: kembali kepada Allah lewat sholat sunat.

Berbeda dengan sholat sunat rawatib yang mengiringi sholat wajib sehari-hari, ada tiga sholat sunat yang lahir dari kondisi hati tertentu—saat bimbang, saat berhajat, dan saat ingin bertaubat. Ketiganya jarang dibahas tuntas dalam satu artikel, padahal sangat relevan dengan pergumulan batin muslim masa kini.

1. Sholat Istikharah: Saat Hati Dilanda Kebimbangan

Istikharah berasal dari kata khair yang berarti kebaikan. Sholat ini dikerjakan ketika seseorang dihadapkan pada pilihan—menikah dengan siapa, mengambil pekerjaan yang mana, pindah rumah atau tidak—dan tidak yakin mana yang lebih baik untuk dirinya.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan istikharah dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan surat Al-Qur'an (HR. Bukhari). Ini menunjukkan betapa pentingnya kepasrahan kepada Allah sebelum mengambil keputusan besar.

Sholat Istikharah dikerjakan dua rakaat seperti sholat sunat pada umumnya, boleh di waktu kapan saja selain waktu-waktu terlarang sholat. Setelah salam, dilanjutkan dengan doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ

Allahumma inni astakhiruka bi'ilmika, wa astaqdiruka biqudratika, wa as'aluka min fadhlikal 'azhiim, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta'lamu wa laa a'lamu, wa anta 'allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta'lamu anna haadzal amra khairun lii fii diinii wa ma'aasyii wa 'aaqibati amrii, faqdurhu lii wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta'lamu anna haadzal amra syarrun lii fii diinii wa ma'aasyii wa 'aaqibati amrii, fashrifhu 'annii washrifnii 'anhu, waqdur liyal khaira haitsu kaana tsumma ardhinii bihi.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, maka takdirkanlah untukku, mudahkanlah bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. Namun jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun berada, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya." (HR. Bukhari)

Yang perlu dipahami, Istikharah bukan seperti undian yang serta-merta memberi jawaban lewat mimpi. Jawabannya bisa berupa kemudahan atau kesulitan yang Allah hadirkan pada pilihan yang diambil, disertai kelapangan hati untuk menerima apa pun hasilnya.

2. Sholat Hajat: Saat Ada Keinginan yang Dititipkan pada Allah

Berbeda dengan Istikharah yang untuk memilih, sholat Hajat dikerjakan ketika seseorang punya keinginan atau kebutuhan tertentu—baik urusan dunia seperti kelulusan ujian, kesembuhan dari sakit, kelancaran usaha, maupun urusan akhirat seperti ingin istiqamah dalam ibadah.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa memiliki keperluan kepada Allah atau kepada salah seorang anak Adam, hendaklah ia berwudhu dan membaguskannya, kemudian sholat dua rakaat, lalu memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ﷺ" (HR. Tirmidzi, dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits).

Setelah sholat dua rakaat, seseorang dianjurkan memperbanyak doa sesuai hajatnya, boleh dengan bahasa sendiri, atau menggunakan doa yang diajarkan dalam hadits tersebut:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ

Laa ilaaha illallaahul haliimul kariim, subhaanallaahi rabbil 'arsyil 'azhiim, alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, as'aluka muujibaati rahmatika, wa 'azaaima maghfiratika, wal ghaniimata min kulli birrin, was salaamata min kulli itsmin.

Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Tuhan pemilik ‘Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Aku memohon kepada-Mu hal-hal yang mewajibkan rahmat-Mu, hal-hal yang memastikan ampunan-Mu, keberuntungan dari setiap kebaikan, dan keselamatan dari setiap dosa." (HR. Tirmidzi)

Sholat Hajat ini mengajarkan satu hal penting: sebelum meminta kepada manusia, seorang muslim diajak untuk lebih dulu meminta kepada Allah, sebab hanya Dia yang memiliki kuasa penuh atas terkabulnya sebuah keinginan.

3. Sholat Taubat: Saat Hati Rindu Kembali Bersih

Tidak ada manusia yang luput dari dosa, baik yang disengaja maupun tidak. Islam memberi ruang bagi siapa pun yang ingin kembali—sekecil apa pun kesalahannya, sebesar apa pun dosanya—melalui sholat Taubat.

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang hamba berbuat dosa, kemudian ia bersuci dengan baik, lalu berdiri mengerjakan sholat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan).

Setelah sholat dua rakaat, seseorang dianjurkan memperbanyak istighfar dan doa taubat, di antaranya doa yang masyhur berikut ini:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Allahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta, khalaqtanii wa ana 'abduka, wa ana 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu, a'uudzu bika min syarri maa shana'tu, abuu'u laka bini'matika 'alayya, wa abuu'u bidzanbii faghfirlii, fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.

Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjian dan janjiku kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau." (HR. Bukhari, dikenal sebagai Sayyidul Istighfar)

Sholat Taubat bukan hanya untuk dosa besar. Kesalahan kecil sehari-hari seperti berkata kasar kepada orang tua, lalai dalam amanah, atau menunda-nunda sholat wajib pun layak menjadi alasan untuk segera kembali dengan sholat ini.

Menghadirkan Ketiganya dalam Keseharian

Ketiga sholat sunat ini sejatinya mengajarkan satu pelajaran yang sama: bahwa seorang muslim tidak pernah sendirian menghadapi kebimbangan, keinginan, atau penyesalan. Semua bisa disandarkan kepada Allah lewat dua rakaat yang sederhana namun penuh makna.

  • Saat bingung memilih antara dua pekerjaan atau dua calon pasangan, luangkan waktu untuk Istikharah, bukan sekadar bertanya pada firasat atau ramalan.
  • Saat menginginkan sesuatu—baik urusan sekolah anak, kesehatan orang tua, atau kelancaran rezeki—sisipkan sholat Hajat sebelum sibuk berikhtiar ke sana kemari.
  • Saat menyadari ada dosa yang mengganjal hati, jangan tunda untuk sholat Taubat dan memperbanyak istighfar.

Penutup

Hidup memang tidak lepas dari pilihan, harapan, dan kesalahan. Namun Islam telah menyediakan jalan yang lembut untuk menghadapi ketiganya—bukan dengan kepanikan, melainkan dengan kembali menghadap Allah lewat sholat sunat yang ringan dikerjakan namun besar keberkahannya. Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa mengingat Allah di setiap fase kehidupan, baik saat bimbang, saat berharap, maupun saat ingin kembali bersih dari dosa. Mari mulai membiasakan diri mengerjakan sholat-sholat ini, sekecil apa pun kebutuhannya, karena Allah selalu menanti hamba-Nya untuk datang dan berdoa.