Sholat Sunat Berjamaah: Kapan Boleh dan Kapan Sendiri?
Banyak muslim hafal bahwa sholat fardhu lebih utama dikerjakan berjamaah di masjid. Tapi pernahkah terlintas pertanyaan, "Kalau sholat sunat, apakah juga harus berjamaah?" Ternyata jawabannya tidak seragam. Ada sholat sunat yang justru disyariatkan berjamaah, ramai-ramai di masjid, lengkap dengan imam dan khutbah. Tapi ada juga sholat sunat yang para ulama sepakat lebih utama dikerjakan sendirian, bahkan dianjurkan di dalam rumah, jauh dari keramaian. Menariknya, banyak muslim awam yang terbalik memahaminya — ada yang sungkan sholat sunat sendirian karena merasa "kurang afdal", padahal justru itu yang dianjurkan Rasulullah ﷺ.
Artikel ini akan mengajak kita mengenal macam-macam sholat sunat dari sudut pandang yang jarang dibahas: mana yang berjamaah, mana yang sendiri, dan hikmah di balik pembagian tersebut.
Sholat Sunat yang Disyariatkan Berjamaah
Beberapa sholat sunat memang secara khusus dituntunkan untuk dikerjakan bersama-sama, karena berkaitan dengan momen atau peristiwa yang menyentuh kepentingan umat secara luas.
1. Sholat Tarawih
Sholat malam di bulan Ramadhan ini menjadi sholat sunat paling populer dikerjakan berjamaah di masjid maupun mushola. Rasulullah ﷺ pernah mengimami para sahabat beberapa malam, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Meski Tarawih boleh dikerjakan sendiri di rumah, mayoritas ulama menyatakan berjamaah di masjid lebih utama karena mengikuti kebiasaan yang dihidupkan kembali oleh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, yang menyatukan umat dalam satu imam.
2. Sholat Idul Fitri dan Idul Adha
Dua sholat sunat ini menjadi simbol kebersamaan umat Islam sedunia. Dikerjakan di lapangan atau masjid besar, dihadiri anak-anak hingga orang tua, laki-laki maupun perempuan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bahkan menganjurkan wanita yang sedang haid untuk tetap datang ke tempat sholat Id, meski tidak ikut sholat, agar merasakan kebersamaan dan keberkahan hari raya.
3. Sholat Kusuf dan Khusuf (Gerhana Matahari dan Bulan)
Ketika terjadi gerhana, umat Islam dianjurkan berkumpul di masjid untuk melaksanakan sholat gerhana secara berjamaah. Ini mengajarkan bahwa fenomena alam bukan untuk ditakuti secara mistis, melainkan momen mengingat kebesaran Allah bersama-sama. Rasulullah ﷺ sendiri pernah mengimami sholat ini saat terjadi gerhana matahari, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
4. Sholat Istisqa (Meminta Hujan)
Saat kemarau panjang melanda, umat dianjurkan keluar bersama menuju tanah lapang untuk memohon hujan kepada Allah. Sholat ini juga dikerjakan berjamaah, menegaskan bahwa musibah kekeringan adalah tanggung jawab bersama yang perlu direspons dengan doa kolektif, bukan hanya doa pribadi.
Sholat Sunat yang Lebih Utama Dikerjakan Sendiri
Berbeda dengan kelompok di atas, ada sholat-sholat sunat yang justru lebih dianjurkan dikerjakan sendirian, bahkan disunnahkan di rumah, bukan di masjid.
1. Sholat Rawatib
Sholat sunat yang mengiringi sholat fardhu ini — seperti dua rakaat sebelum Subuh atau dua rakaat setelah Maghrib — lebih utama dikerjakan sendiri-sendiri, bukan berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sholat seseorang di rumahnya lebih utama daripada sholatnya di masjidku ini, kecuali sholat wajib." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini secara khusus berbicara tentang sholat sunat, termasuk rawatib.
2. Sholat Tahajud
Sholat malam yang dikerjakan seusai tidur ini secara umum dianjurkan sendirian, di keheningan malam, sebagai momen paling personal antara hamba dan Rabb-nya. Meski dalam kondisi tertentu Nabi ﷺ pernah mengimami sahabat seperti Ibnu Abbas atau Hudzaifah, hal itu bersifat kasuistis, bukan menjadi kebiasaan rutin berjamaah.
3. Sholat Dhuha
Sholat sunat di pagi hari ini juga lazimnya dikerjakan sendiri, baik di rumah, kantor, maupun sela-sela aktivitas. Tidak ada tuntunan khusus untuk menjadikannya sholat berjamaah rutin.
4. Sholat Witir (di luar Ramadhan)
Di luar bulan Ramadhan, sholat Witir umumnya dikerjakan sendiri sebagai penutup sholat malam. Berbeda dengan saat Tarawih, di mana Witir sering digabungkan dalam sholat berjamaah di masjid.
Hikmah di Balik Pembagian Ini
Ada pelajaran adab yang indah dari pembagian ini. Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah sosial dan ibadah personal. Sholat-sholat yang berkaitan dengan kepentingan bersama — seperti hari raya, gerhana, atau musim kemarau — disyariatkan berjamaah untuk menumbuhkan solidaritas dan kebersamaan umat. Sebaliknya, sholat-sholat yang sifatnya mendekatkan diri secara pribadi kepada Allah, seperti Tahajud dan Dhuha, justru lebih utama dilakukan diam-diam, sebagai bentuk keikhlasan yang tidak dicampuri riya atau ingin dilihat orang lain.
Bagi muslim Indonesia, pemahaman ini penting agar kita tidak salah kaprah. Misalnya, seorang bapak yang rutin sholat Dhuha sendirian di rumah tidak perlu merasa "kurang semangat" karena tidak berjamaah — justru itu yang dituntunkan. Sebaliknya, saat gerhana bulan terjadi, mengajak keluarga ke masjid untuk sholat Khusuf berjamaah adalah bentuk mengikuti sunnah yang dianjurkan.
Menyeimbangkan Ibadah Bersama dan Sendiri
Dalam praktiknya, seorang muslim sebaiknya tidak hanya nyaman beribadah ramai-ramai, tapi juga terlatih untuk khusyuk sendirian. Sebagaimana Allah berfirman:
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
"Wadzkur rabbaka fii nafsika tadharru'an wa khiifatan wa duunal jahri minal qawli bil-ghuduwwi wal-aashaali wa laa takun minal ghaafiliin."
Artinya: "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf: 205)
Ayat ini mengingatkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak selalu butuh keramaian. Justru dalam kesendirian, kualitas hati lebih mudah terjaga dari riya.
Kesimpulan
Mengenal macam-macam sholat sunat dari sisi berjamaah atau sendiri membantu kita beribadah sesuai tuntunan, bukan sekadar ikut kebiasaan. Tarawih, Id, Kusuf, dan Istisqa mengajarkan kita arti kebersamaan umat. Sementara Rawatib, Tahajud, dan Dhuha mengajarkan keikhlasan dalam kesunyian. Semoga kita dimudahkan Allah untuk istiqamah menjalankan keduanya — ramai bersama saudara seiman, maupun sunyi dalam munajat pribadi. Mari mulai malam ini, sisihkan waktu walau sebentar untuk sholat sunat sendirian, sebagai bentuk cinta yang tulus kepada-Nya.
Menemukan kekeliruan pada artikel ini? Silakan sampaikan melalui halaman kontak — kami akan meninjau untuk direvisi atau dihapus.