Bayangkan sebuah bangunan sederhana beratap pelepah kurma, berdinding tanah liat, dengan lantai pasir yang menghampar di bawah terik matahari Madinah. Itulah wajah pertama Masjid Nabawi, rumah ibadah yang dibangun langsung oleh tangan Rasulullah ﷺ bersama para sahabat pada tahun pertama hijrah. Kini, empat belas abad kemudian, masjid yang sama telah menjelma menjadi salah satu bangunan ibadah termegah di dunia, mampu menampung lebih dari satu juta jamaah sekaligus. Perjalanan dari kesederhanaan menuju kemegahan ini bukan sekadar catatan arsitektur, melainkan kisah panjang tentang cinta umat yang tak pernah surut kepada Nabi tercinta dan rumah beliau.

Banyak orang yang membahas Masjid Nabawi berhenti pada cerita Raudhah, tiang-tiang bersejarah, atau kubah hijaunya. Namun ada satu babak yang jarang diulas tuntas: bagaimana masjid ini berkembang dari waktu ke waktu, dan apa hikmah yang bisa kita petik dari setiap fase perluasannya.

Awal Mula: Masjid dari Tanah dan Pelepah Kurma

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah setelah hijrah dari Makkah, salah satu hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid. Lokasinya dipilih di tempat unta beliau, Al-Qashwa, berhenti dengan sendirinya—sebuah tanda yang diyakini sebagai petunjuk dari Allah subhanahu wa ta'ala. Tanah itu awalnya milik dua anak yatim, Sahl dan Suhail, yang kemudian diganti nilainya oleh Rasulullah ﷺ.

Masjid pertama ini sangat sederhana. Ukurannya hanya sekitar 35 x 30 meter, dengan dinding dari batu bata tanah liat dan atap dari pelepah kurma yang disusun di atas batang pohon kurma sebagai tiang. Tidak ada karpet mewah, tidak ada pendingin udara. Namun justru dari tempat sederhana inilah lahir peradaban Islam yang mengubah wajah dunia. Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan masjid ini:

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

"Shalatun fi masjidi hadza khairun min alfi shalatin fima siwahu illal masjidal haram."

Artinya: "Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perluasan di Masa Sahabat: Wujud Kecintaan yang Berlanjut

Sepeninggal Rasulullah ﷺ, kecintaan umat kepada masjid ini tidak pernah berhenti diwujudkan dalam bentuk nyata. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu adalah orang pertama yang memperluas bangunan masjid, menambah luasnya hingga hampir dua kali lipat karena jumlah jamaah yang terus bertambah. Beliau tetap mempertahankan kesederhanaan bahan bangunan, sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat awal masjid ini didirikan.

Perluasan berikutnya dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, yang mulai menggunakan batu berukir dan tiang dari marmer, menandai babak baru di mana kualitas bangunan mulai diperhatikan tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan umat.

Yang menarik, setiap perluasan ini selalu melibatkan musyawarah dan tidak dilakukan sepihak. Ini mengajarkan kita sebuah adab penting: bahwa mengurus rumah Allah subhanahu wa ta'ala—termasuk masjid di kampung kita sendiri—sebaiknya melibatkan kebersamaan jamaah, bukan keputusan segelintir orang saja.

Sentuhan Dinasti dan Perjalanan Panjang Sejarah

Selama berabad-abad, Masjid Nabawi terus mengalami renovasi dan perluasan di bawah berbagai kekuasaan Islam, mulai dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah. Setiap era meninggalkan jejak arsitektur khasnya masing-masing—ukiran kaligrafi, kubah, hingga menara yang menjulang. Pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah misalnya, masjid ini diperluas hingga mencakup area rumah para istri Nabi ﷺ, termasuk kamar Aisyah radhiyallahu 'anha yang menjadi lokasi makam Rasulullah ﷺ hingga sekarang.

Sempat pula masjid ini mengalami musibah kebakaran hebat pada abad ke-7 Hijriah, namun umat Islam dari berbagai penjuru dunia bahu-membahu membangunnya kembali. Ini menunjukkan bahwa Masjid Nabawi bukan hanya milik penduduk Madinah, melainkan milik seluruh umat Islam di dunia—termasuk kita di Indonesia yang mungkin belum pernah menginjakkan kaki di sana, tetapi hati kita tetap terpaut dengannya.

Perluasan Modern: Dari Ribuan Menjadi Jutaan Jamaah

Perluasan paling masif terjadi pada era Kerajaan Arab Saudi, terutama di masa Raja Fahd dan dilanjutkan raja-raja setelahnya. Area masjid yang dulunya hanya ribuan meter persegi, kini membentang hingga lebih dari 400.000 meter persegi termasuk halaman luarnya yang dilengkapi payung raksasa otomatis. Teknologi modern seperti pendingin udara bawah tanah, lift, dan sistem drainase canggih dipadukan dengan tetap mempertahankan area inti bersejarah seperti Raudhah dan makam Rasulullah ﷺ.

Fenomena ini menyimpan pelajaran berharga: zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi ruh dan tujuan masjid tetap sama—sebagai tempat sujud, tempat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dan tempat mempersatukan umat dari berbagai bangsa dan bahasa.

Hikmah bagi Muslim Indonesia

Kisah perluasan Masjid Nabawi ini bisa menjadi renungan sederhana bagi kita di tanah air. Banyak masjid di lingkungan kita yang juga mengalami perluasan dari waktu ke waktu berkat gotong royong dan sedekah jamaah. Beberapa hal yang bisa kita teladani:

  • Mencintai masjid bukan hanya dengan meramaikannya saat shalat, tetapi juga turut menjaga dan merawatnya.
  • Berkontribusi dalam pembangunan masjid, sekecil apa pun, adalah bentuk investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir.
  • Menjaga kesederhanaan niat meski bangunan semakin megah, agar esensi ibadah tidak tergerus oleh kemewahan fisik semata.
  • Melibatkan musyawarah jamaah dalam setiap pengembangan fasilitas masjid, sebagaimana teladan para sahabat.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang keutamaan membangun masjid karena Allah subhanahu wa ta'ala:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

"Man bana masjidan lillahi bana Allahu lahu baitan fil jannah."

Artinya: "Barangsiapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menutup dengan Doa dan Harapan

Sejarah perluasan Masjid Nabawi mengingatkan kita bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ dan rumah beliau adalah cinta yang hidup, terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari tanah liat dan pelepah kurma, hingga marmer dan kubah megah, satu hal yang tidak pernah berubah: masjid ini tetap menjadi tempat sujud paling dirindukan oleh jutaan hati muslim di seluruh dunia, termasuk kita di Indonesia.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memudahkan langkah kita untuk suatu saat berdiri di dalamnya, merasakan langsung keteduhan yang telah dirasakan oleh generasi sahabat hingga generasi kita hari ini. Dan bagi yang belum berkesempatan, mari terus merawat cinta itu dengan menjaga masjid-masjid di sekitar kita, sebagai bagian kecil dari warisan besar yang dimulai oleh Rasulullah ﷺ empat belas abad silam. Aamiin.