Ada satu rasa yang hinggap di hati banyak muslim Indonesia meski belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci: rindu. Rindu pada Ka'bah yang hanya dilihat lewat layar, rindu pada Masjid Nabawi yang kubah hijaunya sering muncul di kalender dinding, rindu pada suasana yang konon berbeda dari tempat mana pun di dunia. Banyak yang mengira kerinduan ini hanya bisa terobati dengan tiket pesawat dan visa haji atau umrah. Padahal, ada banyak cara sederhana untuk menghadirkan ruh Mekah dan Madinah ke dalam rumah, tanpa harus menunggu keberangkatan yang entah kapan tiba waktunya.

Artikel ini mengajak berfokus pada sisi yang jarang dibahas: bagaimana menjadikan kerinduan pada dua kota suci itu sebagai bahan bakar ibadah harian, bukan sekadar angan-angan yang menggantung.

Kerinduan yang Dibenarkan dalam Islam

Cinta pada Mekah dan Madinah bukanlah perasaan yang berlebihan atau mengada-ada. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri menunjukkan kecintaan mendalam pada dua kota ini. Diriwayatkan dalam hadits yang disepakati keshahihannya, ketika Nabi hendak hijrah dan menoleh ke arah Mekah, beliau bersabda yang maknanya menunjukkan betapa Mekah adalah negeri yang paling beliau cintai, seandainya bukan karena penduduknya mengusir beliau, tentu beliau tidak akan pernah meninggalkannya (HR. Tirmidzi, dinilai hasan shahih).

Begitu pula kecintaan pada Madinah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah pulang dari bepergian dan melihat tembok-tembok Madinah, beliau mempercepat kendaraannya karena rindu (HR. Bukhari). Jika kekasih yang paling dicintai Allah saja merasakan rindu semacam ini, maka wajar bila umatnya pun merasakan getar yang sama, bahkan tanpa pernah melihat langsung kedua kota tersebut.

Menghadirkan Mekah Madinah Lewat Ilmu

Salah satu cara paling murah dan mudah dijangkau adalah dengan mendekatkan diri lewat ilmu. Banyak muslim Indonesia yang menyimpan foto Ka'bah sebagai wallpaper ponsel, namun jarang meluangkan waktu mempelajari sejarah di baliknya. Padahal mengetahui kisah pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimassalam, atau sejarah hijrah Nabi ke Madinah, akan membuat kerinduan itu punya akar yang kuat, bukan sekadar romantisme visual semata.

  • Membaca kembali kisah sirah nabawiyah tentang masa-masa awal dakwah di Mekah dan pembentukan masyarakat di Madinah.
  • Mendengarkan kajian tentang keutamaan dua tanah haram ini dari ustaz atau ustazah tepercaya.
  • Mengajak anak-anak di rumah menonton dokumenter islami yang mendidik tentang sejarah kedua kota, sebagai pengganti tontonan hiburan biasa.

Ilmu semacam ini akan membuat rindu berubah menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, bukan sekadar kerinduan yang berhenti di angan.

Menabung Niat, Bukan Hanya Menabung Uang

Banyak keluarga muslim Indonesia yang menabung bertahun-tahun untuk bisa berangkat haji atau umrah. Ini tentu mulia dan patut didukung. Namun ada satu hal yang sering terlupa: menabung niat. Maksudnya, selagi menabung rupiah demi rupiah, hati juga perlu ditabung dengan niat yang lurus dan doa yang terus dipanjatkan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa amal itu tergantung niatnya (HR. Bukhari dan Muslim). Maka menabung untuk ke Tanah Suci sebaiknya diiringi niat yang diperbarui setiap kali menyisihkan uang, misalnya dengan berdoa memohon kemudahan dan keikhlasan agar perjalanan nanti benar-benar menjadi ibadah, bukan sekadar wisata religi.

Berikut doa yang bisa dipanjatkan bagi siapa saja yang merindukan Baitullah dan Masjid Nabawi:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَزِيَارَةَ قَبْرِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

Allahummarzuqnaa hajja baitikal haraam wa ziyaarata qabri nabiyyika 'alaihish shalaatu wassalaam

Artinya: "Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki untuk berhaji ke Baitullah yang mulia dan berziarah ke makam Nabi-Mu, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya."

Doa ini boleh dibaca kapan saja, misalnya setiap kali memasukkan uang ke celengan tabungan haji, atau setelah shalat lima waktu, sebagai pengingat bahwa tujuan akhir dari usaha itu bukan sekadar tempat, melainkan ridha Allah.

Meniru Ruh Kehidupan di Dua Kota Suci

Selain doa dan ilmu, ada satu cara yang mungkin justru paling bermakna: meniru ruh kehidupan yang ada di Mekah dan Madinah, bukan hanya bentuk fisiknya. Mekah dikenal sebagai kota yang menyatukan berbagai bangsa dalam satu tawaf, tanpa memandang status sosial. Madinah dikenal sebagai kota yang dibangun Rasulullah dengan persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar.

Nilai-nilai inilah yang bisa dihidupkan di rumah dan lingkungan sehari-hari:

  • Menghapus sekat sosial saat bergaul dengan tetangga, sebagaimana jamaah haji dari berbagai negara berbaur tanpa membedakan kaya dan miskin.
  • Mempererat silaturahmi dengan saudara dan tetangga, meneladani semangat persaudaraan Muhajirin dan Anshar di Madinah.
  • Menjaga kebersihan dan ketertiban rumah serta masjid terdekat, sebagai bentuk penghormatan pada tempat ibadah, sebagaimana kebersihan sangat dijaga di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
  • Membiasakan shalat berjamaah di masjid, mengenang bagaimana Masjid Nabawi menjadi pusat kehidupan umat pada masa Rasulullah.

Dengan cara ini, rumah dan lingkungan sekitar bisa menjadi miniatur kecil dari nilai-nilai luhur yang diajarkan di dua kota suci tersebut.

Doa Sebagai Jembatan Rindu

Bagi yang benar-benar merindukan Tanah Suci namun belum diberi kesempatan, jangan berkecil hati. Rindu yang tulus, jika diiringi doa dan usaha, insyaAllah bernilai ibadah tersendiri. Salah satu doa yang sering diajarkan para ulama untuk dibaca oleh siapa saja yang berharap dimudahkan menuju Baitullah adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا

Allahumma innii as-aluka khairahaa wa khaira ahlihaa wa a'uudzu bika min syarrihaa wa syarri ahlihaa

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan negeri ini dan keburukan penduduknya."

Doa ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah, awalnya dibaca ketika memasuki suatu negeri atau kampung, dan bisa diniatkan pula bagi Mekah dan Madinah agar Allah memudahkan langkah menuju kebaikan di sana, sembari memohon perlindungan dari segala keburukan.

Kesimpulan

Rindu pada Mekah dan Madinah adalah perasaan yang mulia, bahkan pernah dirasakan langsung oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun rindu itu akan lebih bermakna bila diwujudkan dalam bentuk ilmu yang terus dipelajari, niat yang terus diperbarui, doa yang terus dipanjatkan, serta akhlak yang mencontoh nilai-nilai luhur kedua kota suci tersebut. Boleh jadi Allah belum mengizinkan kaki melangkah ke sana, tetapi hati yang selalu merindu dengan cara yang benar, insyaAllah tidak akan pernah sia-sia di sisi-Nya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk berkunjung ke Baitullah dan berziarah ke makam Rasulullah, dan sebelum itu terjadi, mari terus menjaga rindu ini dengan doa dan amal yang baik.