Pernahkah Bunda dan Ayah terkejut mendengar anak kecil menirukan kata-kata kasar yang bahkan tak pernah diajarkan secara langsung? Anak-anak memang seperti spons—menyerap segala yang mereka dengar, baik dari orang tua, tayangan, maupun lingkungan sekitar. Dalam parenting islami, ada satu aspek yang sering terlewat: menjaga apa yang masuk ke telinga anak. Sebab dari telinga, lahir kebiasaan lisan, dan dari lisan, terbentuklah akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi..." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini mengingatkan kita bahwa lingkungan yang dibangun orang tua—termasuk apa yang didengar anak—sangat menentukan arah pertumbuhan karakternya.

Telinga Anak, Pintu Masuk Akhlak

Sebelum anak bisa membaca atau menulis, mereka sudah mulai belajar dari suara-suara di sekitarnya: nada bicara orang tua, obrolan di rumah, hingga suara dari gawai. Karena itu, menjaga "asupan telinga" anak sejak dini adalah bentuk kasih sayang sekaligus bagian dari amanah mendidik generasi Qur'ani.

1. Perhatikan Nada Bicara di Rumah

Anak tidak hanya merekam kata, tapi juga nada. Rumah yang dipenuhi teriakan atau kata-kata kasar—meski bukan ditujukan pada anak—tetap akan terekam dan ditiru. Sebaliknya, rumah yang dipenuhi ucapan lembut, salam, dan kalimat thayyibah akan membentuk anak yang santun.

  • Biasakan mengucap salam saat masuk dan keluar rumah, sebagaimana anjuran Nabi ﷺ.
  • Gunakan kata "tolong", "terima kasih", dan "maaf" di depan anak, meski kepada pasangan atau anggota keluarga lain.
  • Hindari bertengkar dengan suara tinggi di hadapan anak, meski sedang lelah atau kesal.

2. Pilih Tontonan dan Tayangan dengan Bijak

Di era gawai, anak bisa mendengar ribuan kata dalam sehari hanya dari video pendek. Sayangnya, tidak semua konten membawa kebaikan. Sebagian mengandung candaan kasar, kata makian yang dianggap lucu, atau ejekan yang dianggap wajar.

Sebagai orang tua muslim, kita dianjurkan untuk selektif, bukan karena ingin mengekang, tapi karena ingin melindungi fitrah anak. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat At-Tahrim ayat 6:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..."

Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjaga keluarga—termasuk dari pengaruh buruk tontonan—adalah bagian dari tanggung jawab iman, bukan sekadar urusan teknologi.

3. Kenalkan Kalimat Thayyibah Sejak Kecil

Alih-alih membiarkan anak menyerap kata-kata sembarangan, orang tua bisa aktif mengenalkan kalimat-kalimat baik sejak usia dini, seperti:

  • Bismillah sebelum makan atau memulai aktivitas.
  • Alhamdulillah setelah selesai makan atau mendapat nikmat.
  • Astaghfirullah saat melihat sesuatu yang kurang baik, sebagai pengingat diri.
  • Masya Allah saat melihat sesuatu yang indah atau menakjubkan.

Kebiasaan kecil ini, jika diulang setiap hari, akan menjadi refleks alami anak—bukan hafalan yang dipaksakan.

Belajar dari Cara Nabi ﷺ Berbicara pada Anak

Rasulullah ﷺ dikenal sangat lembut dalam bertutur, bahkan kepada anak-anak kecil. Diriwayatkan bahwa beliau sering menyapa anak-anak dengan panggilan sayang dan bercanda dengan cara yang santun, tanpa merendahkan. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang sejak kecil melayani Nabi ﷺ, menceritakan bahwa beliau tidak pernah memarahinya dengan kata-kata kasar meski Anas melakukan kesalahan (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini menjadi teladan bagi orang tua zaman sekarang: cara kita berbicara pada anak akan menjadi "kamus" pertama yang mereka pelajari tentang bagaimana seharusnya berbicara pada orang lain.

Praktik Sederhana di Keseharian Muslim Indonesia

Beberapa kebiasaan kecil berikut bisa mulai diterapkan di rumah:

  1. Saat menonton kartun bersama, ajak anak berdiskusi ringan: "Kalau tadi ada yang bicara kasar, itu boleh ditiru nggak, Nak?"
  2. Putar murotal atau lagu-lagu islami anak sebagai alternatif "background sound" di rumah, menggantikan tontonan yang kurang mendidik.
  3. Setiap malam sebelum tidur, ajak anak mengulang satu kalimat thayyibah yang dipelajari hari itu.
  4. Jika anak terlanjur menirukan kata kurang baik, tegur dengan tenang tanpa mempermalukan, lalu ganti dengan kata yang lebih baik.

Kesimpulan: Telinga yang Terjaga, Lisan yang Terarah

Mendidik anak bukan hanya soal mengajarkan yang benar, tapi juga menjaga apa yang mereka dengar setiap hari. Rumah yang dipenuhi ucapan baik, tontonan yang terjaga, dan kalimat thayyibah yang dibiasakan akan menumbuhkan lisan anak yang santun dan hati yang lembut, insya Allah.

Semoga Allah memudahkan kita sebagai orang tua untuk terus belajar dan memperbaiki diri, sebab sebaik-baik pendidikan bagi anak adalah teladan nyata dari orang tuanya sendiri. Mari kita panjatkan doa, "Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yun"—ya Allah, jadikan pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami. Aamiin.