Pernah tidak, Ayah dan Bunda, dada terasa panas melihat mainan berhamburan di lantai untuk kesekian kali, atau anak menumpahkan susu tepat setelah lantai selesai dipel? Rasa kesal itu manusiawi. Tapi ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: bagaimana cara marah yang tidak menyakiti hati anak, sekaligus tetap mendidik? Islam ternyata punya panduan indah soal ini, jauh sebelum ilmu parenting modern berkembang.

Rasulullah ﷺ adalah sosok yang dikenal lembut kepada anak-anak, namun bukan berarti beliau tidak pernah menegur kesalahan. Justru dari sikap beliau, kita belajar bahwa marah dan mendidik bisa berjalan bersama tanpa harus melukai jiwa anak.

Marah Itu Manusiawi, Tapi Ada Adabnya

Islam tidak pernah menyuruh orang tua menjadi manusia tanpa emosi. Marah adalah fitrah. Yang diatur dalam Islam adalah bagaimana mengelola marah agar tidak berubah menjadi kezaliman, apalagi kepada anak yang hatinya masih polos dan mudah terluka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Bukanlah orang yang kuat itu dengan (banyak) bergelut, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan hawa nafsunya (amarahnya) ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini berlaku universal, termasuk dalam relasi orang tua dan anak. Kekuatan seorang orang tua bukan diukur dari seberapa keras suaranya saat menegur, tapi dari seberapa mampu ia mengendalikan diri agar teguran tetap bernilai pendidikan, bukan pelampiasan emosi.

Bedakan Marah pada Perilaku, Bukan pada Pribadi Anak

Salah satu kesalahan yang sering tanpa sadar kita lakukan adalah mencampur teguran atas kesalahan dengan label buruk pada anak. Misalnya, saat anak menumpahkan air, kita berkata "Kamu emang ceroboh, nggak bisa diandalkan!" Kalimat ini menyasar pribadi anak, bukan perbuatannya.

Cobalah ganti dengan kalimat yang fokus pada perbuatan: "Nak, tumpahannya diapain ya, biar nggak licin lantainya. Lain kali pegang gelasnya pakai dua tangan ya." Kalimat ini tetap menegur, tapi tidak menjatuhkan harga diri anak.

Contoh Sikap Rasulullah ﷺ Saat Dihadapkan pada Kesalahan Anak

Ada kisah menarik dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang pernah membantu Rasulullah ﷺ selama bertahun-tahun. Anas bercerita:

"Aku melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah sekali pun mengatakan kepadaku 'mengapa engkau melakukan ini' terhadap sesuatu yang aku lakukan, atau 'mengapa engkau tidak melakukan itu' terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Anas saat itu masih anak-anak yang tentu tidak selalu sempurna dalam menjalankan tugasnya. Namun Rasulullah ﷺ tidak pernah menghardik atau mempermalukannya. Ini bukan berarti beliau membiarkan kesalahan, tapi beliau memilih cara menegur yang penuh hikmah, sehingga Anas tetap tumbuh dengan rasa cinta, bukan trauma.

Tegas Bukan Berarti Keras

Banyak orang tua khawatir, jika tidak membentak, anak akan meremehkan aturan. Padahal ketegasan dalam Islam tidak identik dengan nada tinggi atau kata-kata kasar. Ketegasan adalah konsistensi: aturan tetap ditegakkan, konsekuensi tetap ada, tapi disampaikan dengan tenang dan penuh wibawa.

Contoh praktis dalam keseharian keluarga muslim Indonesia:

  • Saat anak menolak salat, jangan langsung membentak. Ajak bicara empat mata, tanyakan alasannya, lalu ingatkan dengan lembut keutamaan salat.
  • Saat anak berkata kasar ke saudaranya, tegur langsung saat itu juga tanpa menunggu marah menumpuk, tapi dengan suara yang tetap terkendali.
  • Saat anak melanggar aturan gadget, sampaikan konsekuensi yang sudah disepakati sebelumnya, tanpa perlu berteriak.

Tarik Napas Sebelum Bicara: Sunnah yang Terlupakan

Rasulullah ﷺ mengajarkan cara praktis meredam amarah, di antaranya duduk jika sedang berdiri, berbaring jika masih marah, atau berwudhu untuk menyejukkan hati. Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia duduk. Jika marahnya belum hilang, hendaklah ia berbaring." (HR. Ahmad, sanad hasan)

Praktik sederhana ini bisa kita terapkan saat menghadapi anak. Ketika emosi mulai naik, coba tarik napas panjang, duduk sebentar, atau ambil air wudhu sebelum berbicara pada anak. Jeda singkat ini sering menyelamatkan kita dari kata-kata yang kita sesali kemudian.

Menegur di Waktu dan Tempat yang Tepat

Adab lain yang penting adalah tidak menegur anak di depan orang banyak, apalagi di depan teman-temannya. Ini berkaitan dengan menjaga kehormatan (izzah) anak sebagai manusia yang juga punya harga diri. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga perasaan dan aib seseorang, termasuk anak kita sendiri.

Jika anak melakukan kesalahan di tempat umum, cukup beri kode atau bawa ia ke tempat yang lebih privat untuk berbicara. Ini mengajarkan anak bahwa teguran datang dari kasih sayang, bukan untuk mempermalukannya.

Menutup dengan Pelukan, Bukan Amarah

Setelah teguran disampaikan, ada baiknya diakhiri dengan pelukan atau kata-kata yang menenangkan. Ini membantu anak memahami bahwa yang ditegur adalah perbuatannya, bukan kasih sayang orang tua kepadanya yang berkurang. Cara ini juga meneladani sifat Rasulullah ﷺ yang selalu menyayangi anak-anak meski dalam suasana menegur.

Mendidik anak dengan adab yang islami memang butuh latihan panjang, karena kita pun sedang belajar mengendalikan diri sendiri. Namun setiap usaha menahan amarah demi kebaikan anak, insyaAllah bernilai ibadah dan pahala di sisi Allah.

Kesimpulan

Marah pada anak adalah hal yang wajar, tetapi Islam mengajarkan kita untuk mengelolanya dengan bijak: menegur perbuatan bukan pribadi, memilih waktu dan tempat yang tepat, serta selalu mengakhirinya dengan kasih sayang. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjadi orang tua yang tegas namun lembut, sebagaimana teladan Rasulullah ﷺ. Mari sejenak berdoa, semoga hati kita dilapangkan dan lisan kita dijaga saat mendidik buah hati tercinta.