Setiap tahun, jutaan kaki melangkah menuju dua kota paling mulia dalam Islam: Mekah dan Madinah. Sebagian datang untuk berhaji, sebagian untuk umrah, dan tak sedikit yang sekadar singgah dalam perjalanan panjang mengejar rezeki di negeri jauh. Namun ada satu hal yang sering terlewat dari perhatian kita: bagaimana seharusnya sikap seorang muslim ketika menjadi tamu di tanah suci? Sebab, gelar yang disandang setiap jamaah yang datang ke sana bukanlah "wisatawan" atau "pelancong", melainkan dhuyufurrahman—tamu-tamu Allah Yang Maha Pengasih.

Gelar mulia ini membawa konsekuensi. Sebagaimana kita diajarkan untuk menghormati tamu yang datang ke rumah kita, seorang tamu pun sepatutnya menjaga adab ketika berada di "rumah" tuan rumahnya. Dan tak ada rumah yang lebih agung daripada Baitullah di Mekah serta kota yang menaungi makam Rasulullah ﷺ di Madinah.

Makna di Balik Gelar "Tamu Allah"

Rasulullah ﷺ bersabda tentang kemuliaan orang yang berhaji dan berumrah sebagai tamu Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, disebutkan:

الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ

"Al-hujjaju wal 'ummaru wafdullah, in da'auhu ajaabahum, wa inistaghfaruhu ghafara lahum."

Artinya: "Orang-orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, Dia akan mengabulkannya, dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, Dia akan mengampuni mereka." (HR. Ibnu Majah)

Bayangkan betapa istimewanya kedudukan ini. Ketika kita menjadi tamu seseorang yang mulia, tentu kita akan berusaha berpenampilan rapi, berbicara sopan, dan menjaga sikap agar tidak mengecewakan tuan rumah. Maka sudah sepatutnya sikap yang sama—bahkan lebih—kita hadirkan ketika menjadi tamu Allah di tanah suci.

Adab yang Sering Terlupakan Para Tamu Allah

Di tengah euforia bisa menginjakkan kaki di Mekah dan Madinah, tak jarang kita lupa bahwa perjalanan ini adalah ibadah, bukan liburan biasa. Berikut beberapa adab yang perlu dihidupkan kembali:

1. Menjaga Lisan dari Perkataan Sia-sia

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 197 tentang larangan berbuat rafats (perkataan kotor), fusuq (kefasikan), dan jidal (bertengkar) selama ibadah haji. Meski ayat ini spesifik untuk haji, semangatnya berlaku untuk siapa pun yang berada di tanah suci: jaga lisan dari ghibah, bertengkar soal hal sepele, atau mengeluh berlebihan tentang antrean dan cuaca panas.

2. Tidak Menjadikan Tanah Suci Sekadar Latar Foto

Tak ada larangan berfoto sebagai kenangan, namun perlu diingat bahwa fokus utama kunjungan adalah ibadah. Banyak jamaah yang sibuk mengejar sudut foto terbaik di depan Ka'bah hingga melalaikan waktu shalat atau berdesakan yang mengganggu jamaah lain. Sikap sederhana seperti mendahulukan ibadah sebelum dokumentasi adalah bentuk penghormatan pada kesucian tempat tersebut.

3. Rendah Hati kepada Sesama Jamaah

Di Mekah dan Madinah, kita akan bertemu muslim dari berbagai negara, suku, dan latar belakang ekonomi. Ada yang datang dengan biaya sendiri hasil menabung puluhan tahun, ada pula yang berangkat dengan kemudahan finansial. Semua berkumpul dalam pakaian ihram yang sama sebagai pengingat bahwa di hadapan Allah, semua manusia setara. Maka bersikap rendah hati, mengalah dalam antrean, dan tidak memandang rendah jamaah lain adalah bagian dari adab tamu Allah.

4. Menjaga Kebersihan dan Fasilitas Umum

Kebersihan adalah bagian dari iman. Membuang sampah pada tempatnya, tidak merusak fasilitas hotel atau masjid, serta menjaga ketertiban saat menggunakan toilet umum adalah wujud nyata dari akhlak seorang muslim yang menghargai amanah yang dititipkan kepadanya, termasuk amanah menjaga lingkungan tanah suci.

Perbedaan Nuansa Adab di Mekah dan Madinah

Meski sama-sama kota suci, Mekah dan Madinah memiliki nuansa yang berbeda, dan adab yang dijalankan pun sedikit menyesuaikan.

  • Di Mekah, fokus utama adalah ibadah di sekitar Ka'bah—thawaf, shalat, dan doa. Suasananya cenderung lebih intens dan padat, sehingga kesabaran dalam berdesakan menjadi ujian tersendiri.
  • Di Madinah, suasana lebih tenang dan syahdu karena kota ini identik dengan kelembutan dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Di sinilah adab berziarah ke makam Nabi perlu diperhatikan—tidak berteriak memanggil nama beliau secara berlebihan, tidak mengusap-usap kisi-kisi makam, dan cukup mengucapkan salam dengan suara yang tenang dan penuh hormat.

Doa Ketika Memasuki Tanah Suci

Sebagai bentuk penghambaan dan permohonan agar kunjungan membawa berkah, banyak ulama menganjurkan untuk memperbanyak doa berikut ketika memasuki wilayah haram, sebagaimana yang diajarkan dalam sunnah ketika memasuki suatu negeri atau tempat yang mulia:

اللَّهُمَّ هَذَا حَرَمُكَ وَأَمْنُكَ فَحَرِّمْنِي عَلَى النَّارِ، وَأَمِّنِّي مِنْ عَذَابِكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ أَوْلِيَائِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ

"Allahumma hadza haramuka wa amnuka, fa harrimni 'alan-naar, wa amminni min 'adzabika yauma tab'atsu 'ibadaka, waj'alni min auliyaa-ika wa ahli tha'atika."

Artinya: "Ya Allah, ini adalah tanah haram-Mu dan tempat aman-Mu, maka jauhkanlah aku dari api neraka, dan amankanlah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu, dan jadikanlah aku termasuk golongan wali-wali-Mu dan ahli taat kepada-Mu."

Doa ini menjadi pengingat bahwa kedatangan kita bukan untuk hal duniawi semata, melainkan memohon keselamatan dunia akhirat di tempat yang dijanjikan penuh keberkahan.

Membawa Pulang Adab, Bukan Hanya Oleh-oleh

Banyak jamaah pulang dari Mekah dan Madinah membawa kurma, air zamzam, sajadah, hingga sorban sebagai buah tangan. Semua itu baik, namun ada satu "oleh-oleh" yang jauh lebih berharga: perubahan akhlak. Gelar haji atau hajjah yang disandang sepulang dari tanah suci semestinya tercermin dalam keseharian—lebih sabar, lebih dermawan, lebih menjaga lisan, dan lebih dekat dengan Allah.

Bagi kita yang belum berkesempatan menginjakkan kaki di sana, adab ini tetap bisa dilatih sejak sekarang. Menjaga lisan, rendah hati kepada sesama, dan menghormati tempat-tempat ibadah di sekitar kita adalah bentuk latihan kecil sebelum—insyaAllah—Allah panggil ke tanah suci-Nya.

Penutup

Menjadi tamu Allah adalah kehormatan yang tak ternilai. Sudah sepantasnya kehormatan ini disambut dengan adab terbaik—menjaga hati, lisan, dan sikap selama berada di Mekah dan Madinah. Semoga Allah memudahkan langkah kita, atau siapa pun orang yang kita cintai, untuk segera menjadi tamu-Nya dengan hati yang bersih dan adab yang terjaga. Aamiin.