Cordoba Bercahaya: Saat Lampu Jalan Menyala 7 Abad Sebelum Eropa
Bayangkan sebuah malam di abad ke-10. Di banyak kota Eropa, orang-orang bahkan takut keluar rumah begitu matahari terbenam karena gelap gulita, jalanan becek, dan tak ada penerangan sama sekali. Namun di ujung barat daya benua yang sama, ada sebuah kota bernama Cordoba—ibu kota kekhalifahan Islam di Andalusia—yang jalan-jalannya sudah beraspal rapi dan berpenerangan lampu minyak sepanjang lebih dari 10 kilometer. Konon, seseorang bisa berjalan kaki dari satu ujung kota ke ujung lainnya di malam hari hanya dengan bantuan cahaya lampu jalan, tanpa perlu membawa obor sendiri. Ini bukan dongeng, melainkan catatan yang banyak disebut oleh para sejarawan tentang kemajuan peradaban Islam di Eropa.
Kisah ini penting untuk kita renungkan bukan sekadar sebagai kebanggaan sejarah, tetapi sebagai pengingat bahwa Islam pernah—dan seharusnya selalu—menjadi rahmat yang menghadirkan kenyamanan, keteraturan, dan kemudahan bagi manusia, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
Cordoba, Kota yang Tak Pernah Tidur dalam Kebaikan
Pada masa kekhalifahan Umayyah di Andalusia, khususnya di era Abdurrahman III dan Al-Hakam II, Cordoba tumbuh menjadi salah satu kota terbesar dan paling maju di dunia. Beberapa catatan sejarah menyebutkan penduduknya mencapai ratusan ribu jiwa, jauh melampaui kota-kota besar Eropa lain saat itu. Yang membuatnya istimewa bukan hanya jumlah penduduk, tetapi tata kelola kotanya yang sangat memperhatikan kenyamanan warga.
- Jalan-jalan utama diaspal dan dijaga kebersihannya secara rutin.
- Lampu-lampu jalan dipasang di sepanjang jalur utama, dinyalakan setiap malam.
- Terdapat ratusan pemandian umum yang bersih dan terjangkau bagi rakyat biasa.
- Sistem saluran air mengalirkan air bersih ke rumah-rumah penduduk, sesuatu yang baru dinikmati Eropa berabad-abad kemudian.
Semua ini lahir bukan dari kebetulan, melainkan dari semangat para pemimpin dan ulama saat itu yang memahami bahwa menjaga kemaslahatan umat adalah bagian dari amanah kepemimpinan dalam Islam.
Kenyamanan Kota sebagai Wujud Adab dan Amanah
Dalam Islam, menata kehidupan bersama—termasuk urusan kota, jalan, dan fasilitas umum—bukan perkara sepele. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
"Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini sering kita dengar dalam konteks pribadi, misalnya membuang duri atau sampah dari jalan. Namun bila kita renungkan lebih dalam, semangat ini pula yang mendasari para pemimpin Muslim di Cordoba membangun jalan beraspal, penerangan, dan sanitasi kota. Mereka memahami bahwa memudahkan urusan orang banyak, menjaga keselamatan pejalan kaki di malam hari, dan menyediakan air bersih adalah bentuk sedekah dalam skala yang lebih besar—sedekah struktural yang manfaatnya dirasakan oleh seluruh warga kota, muslim maupun non-muslim yang hidup berdampingan di sana.
Ilmu Pengetahuan yang Menyalakan Peradaban
Kemajuan infrastruktur Cordoba tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari budaya keilmuan yang begitu dihidupkan di masa itu. Cordoba memiliki perpustakaan besar dengan koleksi ratusan ribu manuskrip, mendorong lahirnya banyak ilmuwan Muslim dalam bidang kedokteran, matematika, astronomi, hingga teknik sipil yang kelak menjadi rujukan para insinyur pembangun kota.
Semangat mencari ilmu ini sejalan dengan banyak ayat Al-Qur'an yang mendorong umat untuk merenungkan dan memanfaatkan ilmu bagi kebaikan bersama, salah satunya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan." (QS. Al-Mujadalah: 11)
Insinyur, arsitek, dan perancang kota Cordoba pada masa itu tidak memisahkan ilmu dari iman. Mereka membangun bukan sekadar demi kemegahan, tetapi sebagai wujud syukur dan tanggung jawab atas ilmu yang Allah titipkan.
Belajar dari Cordoba untuk Kehidupan Muslim Indonesia Hari Ini
Kisah Cordoba bisa menjadi renungan sederhana bagi kita, umat Islam Indonesia, dalam keseharian:
- Menjaga fasilitas umum. Tidak membuang sampah sembarangan di jalan, menjaga kebersihan masjid dan lingkungan RT/RW, adalah jejak kecil dari semangat "sedekah jalan" yang dulu dihidupkan di Cordoba.
- Berkontribusi sesuai keahlian. Seorang muslim yang berprofesi sebagai insinyur, arsitek, atau petugas kebersihan sebenarnya sedang meneruskan warisan mulia peradaban Islam bila diniatkan untuk kemaslahatan umat.
- Mencintai ilmu tanpa melupakan iman. Anak-anak kita bisa dikenalkan bahwa Islam pernah menjadi pelopor sains dan teknologi, agar mereka bangga menjadi muslim yang cinta ilmu sekaligus taat beribadah.
Ketika kita menyalakan lampu teras rumah agar tetangga tidak tersandung di malam hari, atau bergotong royong memperbaiki jalan kampung yang rusak, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali ruh yang dulu membuat Cordoba bersinar—bukan sekadar bersinar secara fisik, tetapi bersinar karena cahaya iman yang melahirkan kepedulian nyata.
Penutup: Cahaya yang Semestinya Tak Pernah Padam
Kejayaan Cordoba mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang menghadirkan kemudahan dan kenyamanan bagi semua, bukan hanya untuk umatnya sendiri. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita semangat serupa: mencintai ilmu, menjaga amanah, dan peduli pada kemaslahatan bersama, sekecil apa pun bentuknya. Mari kita berdoa agar Allah mengizinkan cahaya kebaikan itu terus menyala dalam diri kita dan keluarga, sebagaimana pernah menyinari jalan-jalan Cordoba di masa silam. Aamiin.
Menemukan kekeliruan pada artikel ini? Silakan sampaikan melalui halaman kontak — kami akan meninjau untuk direvisi atau dihapus.