Bayangkan seseorang rela berjalan kaki dan menunggangi unta selama berbulan-bulan, menyeberangi padang pasir yang terik, hanya untuk mendengar satu hadits langsung dari mulut seorang perawi. Bukan cerita dongeng, ini adalah kenyataan yang terjadi berabad-abad silam dalam sejarah peradaban Islam. Tradisi ini dikenal dengan istilah rihlah ilmiah — perjalanan mencari ilmu yang menjadi salah satu fakta paling menakjubkan namun jarang dibahas dari masa keemasan Islam.

Di tengah dunia modern yang serba instan, di mana ilmu bisa didapat hanya dengan sekali ketuk layar ponsel, kisah para pencari ilmu zaman dahulu ini terasa seperti dari planet lain. Namun justru di situlah letak hikmahnya yang begitu relevan untuk kita renungkan hari ini.

Apa Itu Rihlah Ilmiah?

Rihlah secara bahasa berarti "perjalanan". Dalam konteks keilmuan Islam, rihlah ilmiah adalah tradisi para penuntut ilmu — terutama ahli hadits — yang melakukan perjalanan jauh dari satu negeri ke negeri lain demi memastikan keabsahan sebuah riwayat. Mereka tidak puas hanya mendengar hadits dari satu atau dua orang di kotanya sendiri. Mereka ingin memastikan sanad (mata rantai periwayatan) benar-benar bersambung dan perawinya terpercaya.

Imam Bukhari, misalnya, dikisahkan menempuh perjalanan ke berbagai wilayah seperti Baghdad, Kufah, Basrah, Mesir, hingga Syam demi mengumpulkan hadits-hadits yang kelak beliau himpun dalam kitab Shahih Bukhari. Perjalanan seperti ini bisa memakan waktu bertahun-tahun, dengan risiko keamanan, cuaca ekstrem, dan keterbatasan bekal yang sangat nyata.

Kisah yang Menggugah dari Jabir bin Abdillah

Salah satu kisah rihlah ilmiah yang paling terkenal adalah perjalanan sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu. Diriwayatkan bahwa beliau menempuh perjalanan sebulan penuh dari Madinah menuju Syam hanya untuk mendengar satu hadits dari Abdullah bin Unais tentang hadits qishash (pembalasan) di hari kiamat. Kisah ini disebutkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad.

Bayangkan, satu hadits saja begitu berharga sehingga layak ditempuh dengan perjalanan sebulan menunggang unta melintasi padang pasir. Ini menunjukkan betapa tingginya penghormatan umat Islam masa itu terhadap ilmu, khususnya ilmu yang bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Mengapa Mereka Rela Berkorban Sejauh Itu?

Ada beberapa alasan mendasar yang mendorong semangat rihlah ilmiah ini, dan semuanya berakar dari keimanan yang kokoh:

  • Menjaga kemurnian ajaran Nabi. Mereka sadar bahwa hadits adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an, sehingga tidak boleh ada kesalahan sedikit pun dalam periwayatannya.
  • Ilmu dianggap sebagai warisan para nabi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa para ulama adalah pewaris para nabi (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi), sehingga menuntut ilmu dipandang sebagai ibadah mulia.
  • Keyakinan akan pahala yang besar. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.

Pelajaran untuk Muslim Masa Kini

Kita tidak lagi perlu menunggang unta atau berjalan kaki berbulan-bulan untuk belajar agama. Namun semangat di balik rihlah ilmiah ini justru semakin relevan untuk kita hidupkan kembali, terutama di tengah kemudahan akses informasi yang kadang membuat kita malah menjadi lalai dan malas.

1. Menghargai Proses Belajar Agama

Hari ini, kajian bisa diakses lewat YouTube, podcast, atau grup WhatsApp hanya dalam hitungan detik. Namun kemudahan ini sering membuat kita menganggap remeh ilmu yang didapat. Padahal para ulama terdahulu rela menempuh ribuan kilometer demi satu riwayat. Sudah sepantasnya kita lebih serius menyimak, mencatat, dan mengamalkan ilmu yang kita dapat dengan mudah hari ini.

2. Selektif Memilih Sumber Ilmu

Ketelitian para muhaddits dalam memilih guru dan memastikan sanad mengajarkan kita untuk tidak asal menerima informasi keagamaan dari sumber yang tidak jelas kredibilitasnya, apalagi di era media sosial di mana siapa saja bisa "berceramah" tanpa dasar keilmuan yang jelas.

3. Konsistensi dalam Menuntut Ilmu

Rihlah ilmiah bukan perjalanan sehari dua hari, melainkan bertahun-tahun. Ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu agama adalah proses seumur hidup, bukan sekadar mengikuti kajian sesekali lalu berhenti. Seorang muslim yang ingin terus tumbuh keimanannya perlu menjadikan belajar sebagai kebiasaan rutin, seperti menyempatkan waktu setiap pekan untuk mengikuti kajian di masjid dekat rumah atau membaca buku-buku agama yang terpercaya.

Menghidupkan Semangat Rihlah di Zaman Digital

Kita bisa meneladani semangat ini dengan cara yang lebih sederhana namun tetap bermakna. Misalnya, meluangkan waktu khusus di akhir pekan untuk menghadiri majelis ilmu, meski harus menempuh perjalanan agak jauh dari rumah. Atau berlangganan kajian rutin seorang ustadz yang jelas keilmuannya, lalu benar-benar mengikutinya dari awal hingga akhir, bukan sekadar menonton sepintas lalu lupa.

Keluarga muslim juga bisa menanamkan nilai ini kepada anak-anak sejak dini, misalnya dengan mengajak mereka mengikuti pesantren kilat atau daurah, sehingga anak memahami bahwa ilmu agama itu berharga dan layak diperjuangkan, bukan sekadar informasi yang lewat begitu saja.

Penutup

Kisah rihlah ilmiah para ulama terdahulu adalah pengingat berharga bahwa ilmu agama tidak datang dengan sendirinya, ia butuh perjuangan, kesungguhan, dan pengorbanan. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari semangat mereka, meski hanya dengan langkah-langkah kecil dalam keseharian kita. Mari kita berdoa, semoga Allah subhanahu wa ta'ala memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, dan menjadikan setiap ilmu yang kita pelajari sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin.