Adil pada Anak: Ujian Orang Tua yang Sering Terlewat
Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti ini di tengah keluarga: "Kakakmu memang lebih pintar, jadi wajar dapat lebih"? Atau mungkin tanpa sadar kita lebih sering memuji satu anak dan lebih sering mengomeli anak yang lain? Banyak orang tua fokus mencurahkan cinta, membelikan mainan, atau menyekolahkan anak di tempat terbaik. Namun ada satu hal mendasar yang kerap terlewat begitu saja: keadilan di antara anak-anak. Padahal, dalam Islam, adil pada anak bukan sekadar anjuran, melainkan bagian dari akhlak yang ditekankan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Kisah Teguran Nabi ﷺ tentang Pemberian kepada Anak
Ada sebuah riwayat yang sangat masyhur dan sering dijadikan rujukan ulama dalam membahas keadilan orang tua terhadap anak-anaknya. Dari sahabat Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan bahwa ayahnya pernah memberinya sebuah hadiah. Namun ibunya, Amrah binti Rawahah, meminta agar hal itu dipersaksikan kepada Rasulullah ﷺ. Ketika ayahnya menghadap Nabi ﷺ dan mengabarkan pemberian tersebut, Rasulullah ﷺ bertanya:
أَكُلَّ وَلَدِكَ نَحَلْتَهُ مِثْلَ هَذَا
"A kulla waladika nahaltahu mitsla hadza?"
Artinya: "Apakah semua anakmu kau beri seperti ini?" (HR. Bukhari dan Muslim)
Sang ayah menjawab tidak. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
"Fattaqullaha wa'diluu baina auladikum."
Artinya: "Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain bahkan disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ meminta agar pemberian tersebut ditarik kembali karena tidak adil kepada anak-anak yang lain. Ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan keadilan dalam pandangan Nabi ﷺ, sampai-sampai beliau tidak mau menjadi saksi atas sebuah ketidakadilan, sekecil apa pun bentuknya.
Mengapa Keadilan pada Anak Begitu Penting?
Banyak orang tua mengira bahwa perbedaan perlakuan terhadap anak adalah hal wajar, apalagi jika alasannya "demi kebaikan" salah satu anak. Namun ada beberapa alasan mengapa Islam sangat menekankan keadilan ini:
- Mencegah benih kecemburuan dan permusuhan. Kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam dan saudara-saudaranya dalam Al-Qur'an surat Yusuf menjadi pelajaran besar. Rasa cemburu yang tumbuh akibat perbedaan perlakuan orang tua bisa berujung pada kebencian yang mendalam antar saudara.
- Menjaga hubungan silaturahmi antar saudara di masa depan. Anak yang merasa dianaktirikan cenderung tumbuh dengan luka batin yang bisa memengaruhi hubungannya dengan saudara kandung hingga dewasa.
- Membentuk rasa aman dan percaya diri anak. Anak yang merasa dicintai setara dengan saudaranya akan tumbuh dengan kepercayaan diri yang sehat, tanpa harus bersaing mencari validasi orang tua.
Adil Bukan Berarti Selalu Sama Persis
Sebagian orang tua mungkin bingung, bagaimana jika kebutuhan anak berbeda-beda? Misalnya anak yang sedang sakit membutuhkan biaya pengobatan lebih besar, atau anak yang sedang kuliah membutuhkan biaya lebih banyak dibanding adiknya yang masih SD. Para ulama menjelaskan bahwa adil dalam hal ini lebih dimaknai sebagai proporsional sesuai kebutuhan, bukan harus sama persis dalam jumlah nominal, selama tidak ada unsur favoritisme atau diskriminasi yang disengaja.
Yang menjadi sorotan utama dalam hadits di atas adalah pemberian yang bersifat hadiah atau hibah tanpa sebab yang jelas, di mana satu anak diberi dan anak lain tidak, padahal kondisi keduanya sama. Inilah bentuk ketidakadilan yang dilarang.
Contoh Praktis dalam Keseharian Keluarga Muslim
Berikut beberapa contoh sederhana yang bisa menjadi bahan refleksi bagi para orang tua:
- Saat memberi uang jajan, usahakan porsinya seimbang sesuai usia, bukan berdasarkan siapa yang lebih disayang atau lebih penurut.
- Hindari kebiasaan membanding-bandingkan anak di depan saudaranya, seperti "kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?"
- Berikan pujian dan perhatian yang merata, tidak hanya kepada anak yang berprestasi secara akademis.
- Saat membagi warisan atau hibah di kemudian hari, pastikan mengikuti aturan syariat dan prinsip keadilan agar tidak menimbulkan perpecahan keluarga.
- Luangkan waktu personal dengan masing-masing anak, sekecil apa pun, agar setiap anak merasa dilihat dan dihargai keberadaannya.
Adil adalah Bentuk Takwa kepada Allah
Perhatikan kembali sabda Nabi ﷺ di atas, "Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah." Ini menunjukkan bahwa berbuat adil kepada anak bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari ketakwaan seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Ketika orang tua berlaku tidak adil, sesungguhnya ia sedang menzalimi anak-anaknya sendiri, dan kezaliman termasuk perkara yang sangat dibenci dalam Islam.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
"Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan."
Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..." (QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini berlaku umum, termasuk dalam ranah keluarga dan hubungan orang tua dengan anak-anaknya.
Memperbaiki Diri: Tidak Ada Kata Terlambat
Bagi orang tua yang menyadari pernah berlaku tidak adil kepada anak-anaknya, baik secara sengaja maupun tidak, pintu perbaikan selalu terbuka. Islam mengajarkan bahwa introspeksi dan memperbaiki kesalahan adalah bagian dari akhlak mulia. Cobalah mulai dari hal kecil, minta maaf pada anak yang mungkin merasa kurang diperhatikan, dan berkomitmen untuk lebih peka pada perasaan setiap anak ke depannya.
Orang tua yang baik bukanlah orang tua yang sempurna tanpa cela, melainkan orang tua yang terus berusaha memperbaiki diri demi kebaikan anak-anaknya, sembari memohon kekuatan dan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta'ala dalam setiap langkah mendidik.
Penutup
Keadilan pada anak adalah salah satu adab yang mudah diucapkan namun tidak selalu mudah dijalankan, apalagi ketika hati punya kecenderungan alami untuk lebih dekat dengan satu anak dibanding yang lain. Namun sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ, keadilan ini adalah bagian dari takwa yang harus terus diperjuangkan. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memampukan kita menjadi orang tua yang adil, penyayang, dan senantiasa membimbing anak-anak menuju kebaikan dunia akhirat. Mari sejenak merenung dan berdoa, semoga Allah menjaga hati kita dari kecenderungan berlebih yang menzalimi anak-anak yang kita cintai.
Menemukan kekeliruan pada artikel ini? Silakan sampaikan melalui halaman kontak — kami akan meninjau untuk direvisi atau dihapus.