Ada satu momen dalam perjalanan haji atau umrah yang sering luput dari perhatian, yaitu detik-detik ketika seorang muslim harus berpisah dengan Mekah atau Madinah. Banyak yang begitu bersemangat mempersiapkan keberangkatan, menghafal doa-doa thawaf, menata niat ihram, tetapi lupa bahwa saat meninggalkan tanah suci pun ada adab yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Padahal, cara seorang hamba berpamitan dari dua kota mulia ini mencerminkan seberapa dalam kerinduannya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menjadi bekal batin untuk kembali ke kehidupan sehari-hari di tanah air.

Artikel ini akan mengajak kita menyelami sisi yang jarang dibahas: bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap, berdoa, dan merefleksikan diri ketika waktu untuk pulang dari Mekah dan Madinah tiba.

Perpisahan yang Berat bagi Hati yang Beriman

Bagi siapa pun yang pernah merasakan nikmatnya beribadah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, meninggalkan kedua tempat itu bukan perkara ringan. Ada rasa berat di hati, seolah enggan melangkah menjauh dari tempat yang penuh keberkahan. Perasaan ini sebenarnya wajar dan bahkan pernah dirasakan oleh Rasulullah ﷺ sendiri terhadap Makkah, kota kelahirannya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang menggambarkan kecintaan beliau kepada tanah tersebut.

Dari Abdullah bin Adi bin Hamra' radhiyallahu 'anhu, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda saat berdiri di Hazwarah, sebuah tempat di Makkah:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

"Wallāhi innaki lakhairu ardhillāh, wa ahabbu ardhillāhi ilayya, walau lā anni ukhrijtu minki mā kharajtu."

Artinya: "Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah sebaik-baik bumi Allah, dan bumi Allah yang paling aku cintai. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadits ini menunjukkan betapa dalam kecintaan Nabi ﷺ kepada Makkah, bukan karena tanahnya semata, melainkan karena kemuliaan yang Allah tetapkan padanya. Perasaan berat hati saat meninggalkan Mekah dan Madinah, karenanya, bukan sesuatu yang perlu disembunyikan, melainkan tanda bahwa keimanan seseorang sedang bertumbuh.

Sunnah Thawaf Wada' Sebagai Simbol Perpisahan

Salah satu adab yang paling dikenal saat hendak meninggalkan Mekah, khususnya setelah menunaikan ibadah haji, adalah thawaf wada' atau thawaf perpisahan. Mayoritas ulama sepakat bahwa thawaf ini merupakan bagian dari rangkaian manasik yang hendaknya dilakukan sebagai penutup, sebelum seseorang benar-benar meninggalkan kota Makkah menuju daerah asalnya.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan:

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ، إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْحَائِضِ

"Umiran nāsu an yakūna ākhiru 'ahdihim bil bayt, illā annahu khuffifa 'anil hā'idh."

Artinya: "Manusia diperintahkan agar akhir dari amalan mereka (di Makkah) adalah dengan Baitullah (thawaf), kecuali diberi keringanan bagi wanita yang sedang haid." (HR. Bukhari dan Muslim)

Thawaf wada' mengajarkan sebuah nilai yang indah: sebelum melangkah pergi, seorang hamba dianjurkan untuk kembali menghadap Ka'bah, mengucapkan salam batin kepada rumah Allah, dan mengingatkan dirinya bahwa perjalanan pulang bukan akhir dari hubungan dengan Allah, melainkan awal untuk membawa nilai-nilai ibadah tersebut ke kehidupan nyata.

Doa yang Diajarkan Saat Berpamitan dari Tanah Suci

Meski tidak ada doa khusus yang diriwayatkan secara spesifik untuk detik terakhir meninggalkan Mekah atau Madinah, para ulama menganjurkan agar seorang muslim memanjatkan doa safar sebagai penutup, karena perjalanan pulang dari tanah suci pun termasuk dalam kategori safar (perjalanan). Doa ini diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dan sangat baik dibaca saat hendak menaiki kendaraan untuk kembali ke tanah air.

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى

"Subhānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahu muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas-aluka fī safarinā hādzal birra wat taqwā, wa minal 'amali mā tardhā."

Artinya: "Maha Suci Allah yang telah menundukkan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai." (HR. Muslim, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu)

Membaca doa ini sambil memandang menara-menara masjid yang perlahan menjauh dari pandangan, sebagaimana banyak dituturkan jamaah asal Indonesia, menjadi momen yang sarat haru. Doa ini juga mengandung pesan penting bahwa perjalanan fisik hanyalah gambaran kecil dari perjalanan panjang setiap hamba menuju Allah.

Membawa Pulang Keberkahan, Bukan Sekadar Oleh-Oleh

Bagi masyarakat muslim Indonesia, sudah menjadi kebiasaan untuk membawa oleh-oleh khas Mekah dan Madinah seperti kurma, air zamzam, sajadah, atau tasbih untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Tradisi ini baik selama diniatkan untuk berbagi kebahagiaan dan mempererat silaturahmi, bukan semata pamer status telah menunaikan haji atau umrah.

Namun yang lebih utama dari sekadar oleh-oleh fisik adalah keberkahan yang dibawa pulang dalam bentuk perubahan sikap. Beberapa hal yang bisa dijadikan renungan sebelum melangkah pulang antara lain:

  • Menjaga kekhusyukan sholat lima waktu, sebagaimana dirasakan saat sholat berjamaah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
  • Melanjutkan kebiasaan membaca Al-Qur'an secara rutin, bukan hanya semasa berada di tanah suci.
  • Menjaga lisan dan akhlak kepada sesama, meniru kesabaran yang dilatih saat berdesakan di tengah jutaan jamaah.
  • Merawat niat ikhlas dalam setiap ibadah, sebagaimana niat yang diperbarui setiap kali mengenakan ihram.

Ulama menekankan bahwa tanda haji atau umrah yang mabrur bukan dilihat dari seberapa banyak cerita yang dibagikan sepulang dari tanah suci, melainkan dari perubahan akhlak yang terus terjaga setelahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, "Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga," dan kemabruran itu tercermin dari keistiqamahan seseorang dalam kebaikan setelah kembali ke rumah.

Rindu yang Menjadi Doa

Tidak sedikit jamaah yang menitikkan air mata saat pesawat lepas landas meninggalkan Jeddah atau Madinah. Rasa rindu itu sesungguhnya adalah anugerah, sebab ia menjadi pengingat untuk terus berdoa agar Allah memberi kesempatan kembali. Banyak ulama menganjurkan untuk memperbanyak doa berikut setiap kali teringat tanah suci:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنَّا بِبَيْتِكَ الْحَرَامِ

"Allāhumma lā taj'alhu ākhiral 'ahdi minnā bibaitikal harām."

Artinya: "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan ini sebagai akhir perjumpaan kami dengan Baitullah yang mulia."

Doa ini bukan doa yang tersebut secara harfiah dalam hadits shahih dengan lafal tersebut, namun maknanya sejalan dengan kebiasaan para salaf yang selalu berharap untuk terus dapat kembali beribadah di tanah suci, dan boleh dipanjatkan sebagai doa pribadi dengan penuh harap kepada Allah.

Kesimpulan

Meninggalkan Mekah dan Madinah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan spiritual, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya: mampukah nilai-nilai ibadah yang dirasakan di tanah suci tetap hidup dalam keseharian di rumah, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat? Semoga setiap muslim yang pernah atau akan menginjakkan kaki di dua kota mulia ini diberi kemudahan untuk kembali, dan diberi kekuatan untuk menjaga keberkahan yang dibawa pulang. Mari kita panjatkan doa, semoga Allah memanggil kita kembali ke tanah suci, dan menjadikan setiap langkah pulang sebagai jalan menuju keridhaan-Nya.