Marah pada Anak? Ini Adab Nabi Saat Emosi Memuncak
Pernahkah Bunda atau Ayah tiba-tiba membentak anak karena mainan berantakan lagi, atau nilai ulangan yang tak kunjung membaik? Lalu beberapa menit kemudian, hati diliputi sesal karena melihat mata kecil itu berkaca-kaca. Momen seperti ini nyaris dialami setiap orang tua. Menjadi orang tua yang baik bukan berarti tidak pernah marah, sebab marah adalah fitrah manusia. Yang membedakan adalah bagaimana adab kita mengelolanya, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Marah Itu Manusiawi, Tapi Bukan Alasan untuk Melukai
Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menjadi robot tanpa emosi. Rasulullah ﷺ sendiri pernah marah, namun kemarahan beliau selalu terkendali dan tidak pernah menyakiti fisik maupun hati orang lain, apalagi anak-anak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda:
لَا تَغْضَبْ
"Laa taghdhab."
Artinya: "Janganlah engkau marah." (HR. Bukhari)
Orang itu mengulang permintaannya beberapa kali, dan Nabi ﷺ tetap menjawab dengan pesan yang sama. Ini menunjukkan betapa pentingnya mengendalikan amarah, karena dari amarah yang tak terkendali lahir kata-kata kasar, pukulan, bahkan luka batin yang bisa terbawa anak hingga dewasa.
Kenapa Amarah pada Anak Berdampak Panjang?
Anak-anak menyerap segala sesuatu dari orang tuanya bagaikan spons. Bentakan yang menurut kita "sekadar meluapkan kesal" bisa terekam dalam memori anak sebagai penolakan atau rasa tidak dicintai. Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi kepercayaan dirinya, cara ia memandang dirinya sendiri, bahkan cara ia kelak memperlakukan anaknya sendiri. Karena itu, mengelola marah bukan sekadar urusan adab pribadi, tapi juga bagian dari amanah mendidik generasi.
Adab Rasulullah ﷺ Saat Marah
Ada beberapa adab yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika amarah mulai memuncak, dan ini bisa kita praktikkan langsung ketika menghadapi tingkah anak yang menguji kesabaran.
1. Duduk atau Berbaring
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
"Idzaa ghadhiba ahadukum wa huwa qaa-imun falyajlis, fa-in dzahaba 'anhul-ghadhabu wa illaa falyadhthaji'."
Artinya: "Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika amarahnya belum reda, hendaklah ia berbaring." (HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits)
Perubahan posisi tubuh ini secara ilmiah maupun spiritual membantu meredakan gejolak emosi. Saat kita duduk atau berbaring, tubuh mengirim sinyal untuk lebih tenang, sehingga potensi kita melampiaskan amarah lewat tindakan fisik pada anak menjadi lebih kecil.
2. Berwudhu untuk Memadamkan Api Amarah
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa marah itu berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Maka cara memadamkannya adalah dengan air, yaitu berwudhu. Dari Athiyyah As-Sa'di radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda bahwa amarah berasal dari setan, setan diciptakan dari api, dan api hanya padam dengan air, maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu (HR. Abu Dawud). Praktiknya sederhana: saat emosi mulai naik menghadapi anak yang rewel, izinkan diri sejenak ke kamar mandi, berwudhu, lalu kembali dengan hati yang lebih dingin.
3. Diam
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam." (HR. Ahmad). Diam di sini bukan diam yang dingin dan mengabaikan anak, melainkan diam sejenak untuk menahan lisan agar tidak keluar kata-kata yang menyakitkan atau bahkan sumpah serapah yang kelak disesali.
Menerapkan Adab Ini dalam Keseharian Bersama Anak
Berikut beberapa contoh praktis yang bisa diterapkan orang tua muslim Indonesia sehari-hari:
- Saat anak menumpahkan susu untuk kesekian kali, tarik napas panjang, ucapkan istighfar dalam hati, lalu duduk sejenak sebelum menegur.
- Jika amarah sudah terasa di ubun-ubun karena anak membangkang, izinkan diri untuk berwudhu dulu sebelum berbicara lagi dengannya.
- Ganti kalimat "Kamu nakal banget sih!" dengan kalimat yang menegur perbuatan, bukan menghakimi pribadi anak, misalnya "Ayah/Bunda tidak suka kalau mainan dilempar seperti itu."
- Biasakan meminta maaf kepada anak jika terlanjur membentak. Ini bukan tanda lemah, justru mengajarkan anak bahwa orang tuanya pun bisa khilaf dan berani mengakui kesalahan.
Marah yang Dibenarkan: Karena Allah, Bukan karena Ego
Perlu dibedakan antara marah karena ego pribadi (misalnya kesal karena lelah, capek kerja, lalu anak jadi pelampiasan) dengan marah yang lahir dari nasihat, seperti menegur anak yang meninggalkan shalat atau berbohong. Marah jenis kedua ini dibolehkan selama disampaikan dengan cara yang mendidik, bukan menghina atau menyakiti fisik dan psikis anak. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menunjukkan raut tidak senang ketika ada pelanggaran terhadap syariat, namun beliau tetap santun dalam menyampaikannya.
Doa Agar Diberi Kesabaran Menghadapi Anak
Ketika hati mulai terasa sesak menghadapi ulah anak, ada baiknya kita memohon kepada Allah agar diberi kesabaran dan hati yang lapang. Berikut doa yang bisa dipanjatkan:
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
"Rabbanaa afrigh 'alainaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa."
Artinya: "Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran atas diri kami dan teguhkanlah pendirian kami." (QS. Al-Baqarah: 250)
Doa ini awalnya diucapkan oleh pasukan Thalut saat menghadapi Jalut, namun maknanya relevan untuk kita yang tengah berjuang menghadapi "medan tempur" harian bersama anak-anak yang menguji kesabaran.
Kesimpulan
Menjadi orang tua yang baik bukan berarti tak pernah marah, melainkan mampu mengelola amarah dengan adab yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yakni mengubah posisi tubuh, berwudhu, dan menahan lisan dengan diam. Amarah yang terkendali akan menjaga hati anak tetap merasa dicintai, sekaligus menjaga pahala orang tua dari penyesalan akibat kata-kata atau tindakan yang tak semestinya. Mari kita jadikan setiap momen marah sebagai ladang latihan kesabaran, dan jangan lupa memohon kepada Allah agar senantiasa diberi kelapangan hati dalam mendidik buah hati tercinta.
Menemukan kekeliruan pada artikel ini? Silakan sampaikan melalui halaman kontak — kami akan meninjau untuk direvisi atau dihapus.