Pernahkah kita membayangkan, ternyata baik-buruknya seorang muslim juga bisa dinilai dari bagaimana ia memperlakukan tetangganya? Bukan dari seberapa sering ia ke masjid saja, atau seberapa banyak hafalan Al-Qur'annya, tapi juga dari sikapnya kepada orang yang tinggal di sebelah rumah, di depan gang, atau satu blok kompleks dengannya. Islam ternyata memberi perhatian yang begitu besar pada urusan bertetangga ini, sampai-sampai Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan sahabatnya dengan nada yang cukup menggugah hati.

Di tengah kehidupan masyarakat muslim Indonesia yang masih kental dengan budaya gotong royong dan kekeluargaan, membahas adab bertetangga rasanya menjadi pengingat yang relevan. Sebab, di balik rutinitas sehari-hari, seringkali kita lupa bahwa hubungan baik dengan tetangga adalah bagian dari ibadah dan cerminan keimanan.

Tetangga dalam Pandangan Al-Qur'an dan Hadits

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 36:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh..." (QS. An-Nisa: 36)

Ayat ini menempatkan perintah berbuat baik kepada tetangga sejajar dengan perintah berbakti kepada orang tua dan kerabat. Ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan tetangga dalam ajaran Islam.

Rasulullah ﷺ bahkan pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha:

"Jibril terus-menerus berpesan kepadaku tentang (berbuat baik kepada) tetangga, sampai aku mengira bahwa ia akan mewariskan (hak waris) kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa hak tetangga begitu besar, sampai Rasulullah ﷺ mengira tetangga bisa mendapat bagian warisan karena seringnya Jibril 'alaihissalam mengingatkan tentang hal ini.

Tetangga dan Kualitas Keimanan Seseorang

Ada satu hadits yang cukup menampar hati siapa pun yang membacanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman." Ada yang bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya." (HR. Bukhari)

Pengulangan sumpah sebanyak tiga kali dalam hadits ini bukan tanpa alasan. Ini menandakan betapa seriusnya persoalan menyakiti tetangga di mata Islam. Bukan hanya soal ibadah ritual, tapi keimanan seseorang juga diukur dari bagaimana ia menjaga perasaan dan kenyamanan orang-orang di sekitarnya.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh Sikap Adab Bertetangga yang Dianjurkan Rasulullah

Berdasarkan tuntunan Al-Qur'an dan sunnah, berikut beberapa contoh sikap nyata yang bisa kita praktikkan dalam keseharian sebagai bentuk adab bertetangga:

1. Berbagi Makanan dan Rezeki

Rasulullah ﷺ pernah berpesan kepada Abu Dzar radhiyallahu 'anhu:

"Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur/kuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu." (HR. Muslim)

Contoh sederhananya, ketika kita memasak sayur asem atau opor lebaran dalam jumlah banyak, ada baiknya sepiring dua piring dibagikan ke tetangga terdekat. Sikap kecil ini bisa mempererat silaturahmi dan menumbuhkan rasa kepedulian.

2. Tidak Mengganggu dengan Suara Bising atau Bau yang Menyakiti

Menjaga volume televisi, musik, atau aktivitas rumah tangga agar tidak mengganggu tetangga adalah bagian dari adab. Termasuk juga menjaga kebersihan agar bau sampah atau asap tidak mengganggu kenyamanan rumah sebelah.

3. Menjenguk Ketika Sakit

Menjenguk tetangga yang sedang sakit termasuk hak sesama muslim yang dianjurkan Rasulullah ﷺ. Kehadiran kita, walau hanya sebentar, bisa menjadi obat penenang hati bagi yang sedang diuji.

4. Membantu Saat Kesusahan

Ketika tetangga mengalami musibah, kehilangan pekerjaan, atau kesulitan ekonomi, Islam menganjurkan kita untuk turut meringankan bebannya, baik dengan bantuan materi maupun sekadar mendengarkan keluh kesahnya.

5. Menahan Diri dari Ghibah dan Prasangka Buruk

Adab bertetangga juga mencakup menjaga lisan. Tidak menggunjingkan aib tetangga, tidak menyebarkan gosip, dan berusaha berprasangka baik meski ada perbedaan pendapat atau kesalahpahaman kecil.

6. Menyapa dan Menjaga Silaturahmi

Sekadar mengucapkan salam saat berpapasan, menanyakan kabar, atau hadir dalam acara syukuran maupun takziah tetangga adalah wujud sederhana namun bermakna dari menjaga hubungan baik.

Adab Bertetangga di Tengah Kehidupan Modern

Di era sekarang, banyak keluarga muslim Indonesia tinggal di perumahan atau apartemen dengan interaksi yang lebih terbatas dibanding dulu. Namun, semangat adab bertetangga tetap bisa dihidupkan, misalnya melalui kegiatan arisan RT, kerja bakti, grup WhatsApp warga yang digunakan untuk kebaikan, atau sekadar saling membantu saat ada kendaraan mogok maupun anak yang perlu dijemput mendadak.

Islam tidak membeda-bedakan tetangga berdasarkan agama maupun latar belakangnya. Rasulullah ﷺ sendiri pernah mencontohkan interaksi baik dengan tetangga non-muslim, seperti kisah beliau yang tetap berbuat baik kepada tetangga Yahudi yang sering mengganggunya. Hal ini menunjukkan bahwa adab bertetangga dalam Islam bersifat universal, selama tidak bertentangan dengan prinsip akidah.

Menutup dengan Renungan

Menjaga hubungan baik dengan tetangga sejatinya bukan sekadar formalitas sosial, melainkan bagian dari ibadah yang bernilai pahala. Semakin kita memahami betapa besar perhatian Rasulullah ﷺ terhadap hak-hak tetangga, semakin kita tersadar bahwa kebaikan itu dimulai dari lingkungan terdekat kita sendiri.

Semoga Allah ﷻ memudahkan langkah kita untuk senantiasa menjadi tetangga yang baik, yang kehadirannya membawa rasa aman dan manfaat bagi orang-orang di sekitar. Mari kita mulai dari hal kecil hari ini, sepiring makanan, sapaan hangat, atau sekadar kepedulian sederhana, sebagai wujud keimanan kita kepada Allah dan hari akhir. Aamiin.