Pernahkah Anda menatap foto Ka'bah atau Masjid Nabawi di layar ponsel, lalu tiba-tiba dada terasa sesak menahan rindu? Perasaan itu wajar, bahkan indah. Banyak muslim di Indonesia yang belum berkesempatan menunaikan haji atau umrah, namun hati mereka sudah lama "berangkat" ke Makkah dan Madinah lewat doa, shalawat, dan kerinduan yang tulus. Artikel ini akan mengajak kita mengenal adab merindukan dan berkirim salam untuk dua kota suci itu dari kejauhan—sebuah amalan hati yang jarang dibahas, namun sarat keberkahan.

Rindu yang Bernilai Ibadah

Islam mengajarkan bahwa cinta kepada tempat-tempat mulia bukan sekadar perasaan romantis, melainkan bagian dari keimanan. Rasulullah ﷺ sendiri menunjukkan kerinduan luar biasa kepada Makkah, kota kelahirannya, ketika beliau harus berhijrah ke Madinah. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda tentang Makkah:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

"Wallaahi innaki lakhairu ardhillaah, wa ahabbu ardhillaahi ilallaah, wa lau laa annii ukhrijtu minki maa kharajtu."

Artinya: "Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar." (HR. Tirmidzi, dinilai shahih)

Hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Makkah adalah sesuatu yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ. Maka wajar jika hati seorang muslim bergetar ketika mendengar nama Makkah dan Madinah disebut, meski jasadnya masih berjarak ribuan kilometer.

Cara Menghadirkan Cinta Dua Kota Suci dalam Keseharian

Bagi muslim Indonesia yang belum berkesempatan berkunjung, ada beberapa cara sederhana namun bermakna untuk merawat kerinduan ini agar tetap produktif dan tidak sekadar angan-angan:

  • Memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ, karena Madinah adalah kota tempat beliau dimakamkan dan mengajarkan Islam secara paripurna.
  • Mempelajari sejarah dan keutamaan kedua kota, misalnya melalui buku sirah atau kajian, sehingga kerinduan tumbuh dari ilmu, bukan sekadar emosi sesaat.
  • Menabung untuk haji atau umrah sejak dini, sekecil apa pun jumlahnya, sebagai ikhtiar nyata mewujudkan niat baik.
  • Mendoakan saudara muslim yang sedang berada di sana, agar ibadah mereka mabrur dan menjadi wasilah keberkahan bagi umat.
  • Menjaga adab saat melihat gambar atau video Ka'bah dan Masjid Nabawi, misalnya dengan tidak asal membagikan tanpa memperhatikan konten yang menyertainya, serta merenungi maknanya, bukan sekadar konsumsi hiburan visual.

Doa Merindukan dan Memohon Kemudahan Menuju Baitullah

Salah satu amalan yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, adalah memanjatkan doa memohon kemudahan untuk bisa berkunjung ke Baitullah dan Masjid Nabawi. Berikut doa yang bisa dipanjatkan dengan penuh harap:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَزِيَارَةَ قَبْرِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَاجْعَلْ ذَلِكَ خَيْرًا لَنَا فِي دِينِنَا وَدُنْيَانَا وَآخِرَتِنَا

"Allahummarzuqnaa hajja baitikal-haraami wa ziyaarata qabri nabiyyika 'alaihish-shalaatu was-salaam, waj'al dzaalika khairan lanaa fii diininaa wa dunyaanaa wa aakhiratinaa."

Artinya: "Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki untuk berhaji ke Baitullah yang mulia dan berziarah ke makam Nabi-Mu ﷺ, dan jadikanlah hal itu kebaikan bagi kami dalam agama, dunia, dan akhirat kami."

Doa semacam ini biasa dipanjatkan para ulama dan orang-orang saleh yang merindukan Tanah Suci. Meski tidak berasal dari lafaz baku hadits tertentu, doa ini sejalan dengan semangat memohon kebaikan yang diajarkan dalam Al-Qur'an, sebagaimana Allah berfirman:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa 'adzaaban-naar."

Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201)

Belajar dari Kisah Para Sahabat yang Merindukan Madinah

Ada kisah menarik tentang Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Bilal sempat pindah dari Madinah karena kerinduannya yang begitu mendalam kepada Nabi ﷺ membuatnya sulit tinggal di kota itu tanpa kehadiran beliau. Namun ketika suatu saat ia kembali berkunjung ke Madinah, ia mengumandangkan azan sekali lagi di Masjid Nabawi, dan riwayat menyebutkan penduduk Madinah menangis mengingat masa-masa bersama Rasulullah ﷺ. Kisah ini mengajarkan bahwa kerinduan kepada tempat-tempat mulia sesungguhnya adalah kerinduan kepada nilai-nilai kebaikan, ilmu, dan keteladanan yang pernah hidup di sana.

Bagi kita di Indonesia, semangat ini bisa diterjemahkan dalam bentuk lain: merindukan suasana ibadah yang khusyuk seperti di Masjidil Haram, lalu berusaha menghadirkannya di masjid-masjid dekat rumah. Merindukan keteduhan Masjid Nabawi, lalu berusaha membawa akhlak Nabi ﷺ dalam pergaulan sehari-hari—jujur dalam berdagang, lembut kepada keluarga, dan sabar menghadapi ujian.

Menjadikan Rindu Sebagai Motivasi, Bukan Sekadar Nostalgia

Penting untuk memastikan bahwa kerinduan kepada Makkah dan Madinah tidak berhenti pada perasaan sentimental semata. Kerinduan yang sehat akan mendorong seseorang untuk memperbaiki kualitas ibadah, menabung dengan niat lillahi ta'ala, serta mendoakan kemudahan bagi dirinya dan keluarga untuk suatu hari bisa berdiri di depan Ka'bah atau bersujud di Raudhah, taman surga yang terletak di antara mimbar dan rumah Nabi ﷺ di Masjid Nabawi.

Sebagian keluarga muslim di Indonesia bahkan menjadikan rindu ini sebagai bahan pendidikan bagi anak-anak mereka—mengajak anak menabung koin receh untuk "tabungan haji", menonton dokumenter sejarah Makkah-Madinah bersama, atau membaca kisah Nabi ﷺ sebelum tidur. Cara-cara sederhana ini menanamkan cinta kepada dua kota suci sejak dini, sekaligus menjadi bekal keimanan untuk generasi mendatang.

Penutup: Rindu yang Berbuah Doa

Merindukan Makkah dan Madinah dari kejauhan bukanlah kesedihan tanpa arah, melainkan bentuk cinta yang bisa dipupuk dengan ilmu, doa, dan ikhtiar. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memudahkan langkah kita, atau keluarga kita, untuk bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci pada waktu yang tepat. Sembari menunggu, mari terus perbanyak shalawat, doa, dan amal saleh, agar kerinduan ini menjadi wasilah keberkahan, bukan sekadar kenangan yang berlalu begitu saja.